Daerah Ekonomi Esai Gemas Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Mbakyu Nasional Opini Pembaca Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Weekend Yuk

Lembar Budaya: Doa Permaisuri yang Terusir

Bachtiar Febrianto • 2026-03-07 09:30:00

Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
Bachtiar Febrianto

 

Kisah dari lereng sunyi Gunung Ratu di Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan. Orang-orang percaya bahwa gunung kecil itu menyimpan cerita lama yang lebih tua daripada ingatan manusia. Sebuah kisah tentang pengkhianatan, kesetiaan, dan takdir dibalik awal perjalanan Kerajaan Majapahit


Pada suatu malam yang sunyi di istana Kerajaan Majapahit, langit terasa lebih gelap dari biasanya. Sang permaisuri, Tribhuwaneswari, berdiri di serambi dengan mata berkaca-kaca. Fitnah telah menjeratnya seperti jaring halus yang tak terlihat. Kata-kata manis berubah menjadi racun. Intrik istana menjelma badai.

Raden Wijaya sebagai raja, yang dahulu bersumpah akan melindunginya, kini terdiam. Ia telah termakan bisikan cemburu dari permaisuri lain, Dara Petak. Di hadapan para pejabat dan prajurit, keputusan itu dijatuhkan: Tribhuwaneswari harus meninggalkan istana. Buah dari fitnah ada ambisi menjadikan anaknya menjadi raja.

Tidak ada pengadilan. Tidak ada pembelaan. Hanya pengusiran.Suatu keputusan yang sangat tragis.

Malam itu, Tribhuwaneswari pergi tanpa kemegahan seorang permaisuri raja seperti biasanya. Hanya ditemani seekor kucing yang diberi nama Candramawa. Makhluk setia itu selalu mengikuti langkahnya sejak dahulu.

Di balik gerbang istana, ia menoleh sekali lagi. “Takdir manusia sering ditulis oleh tangan yang penuh kepentingan,” bisiknya lirih, lalu ia menghilang ke dalam gelap.

Berhari-hari ia berjalan ke arah utara melintasi hutan, lembah, dan sungai. Perutnya membesar, sebab ia tengah mengandung. Angin malam menjadi selimutnya, tanah menjadi ranjangnya.

Akhirnya ia sampai di sebuah bukit kecil di tengah hutan lebat yang sunyi di wilayah yang kini dikenal sebagai Ngimbang – Lamongan. Bukit itu seakan memanggilnya. “Kita akan tinggal di sini karena aku sudah tak kuat lagi berjalan,” ujarnya lirih pada Candramawa.

Sejak saat itu ia mengganti namanya menjadi Dewi Andongsari. Nama baru untuk hidup baru. Sebuah upaya mengubur masa lalu.

Untungnya di bawah bukit sunyi itu terdapat sebuah sendang yang kelak dikenal sebagai Sendang Tujuh. Airnya jernih dan dingin, seolah berasal dari rahasia bumi. Sendang itu menjadi tumpuan hidup Dewi Andongsari sehari-hari.

Hari-hari berlalu dalam keterbatasan. Tak ada lagi mahkota. Tak ada pelayan. Kini menjelma menjadi seorang perempuan yang sekuat tenaga tetap hidup untuk menunggu kelahiran anaknya seorang diri.

Suatu malam yang dingin, saat kabut turun dari puncak bukit, bayi itu lahir. Tangisnya memecah kesunyian hutan. Namun tubuh Andongsari telah terlalu lemah. Dengan napas yang semakin tipis, ia memandang wajah bayi itu. “Anakku, kelak dunia akan mengenalmu, bukan karena darahmu, tetapi karena tekadmu.”

Candramawa mengeong pelan di sampingnya. Beberapa saat kemudian, napas sang ibu berhenti. Hutan kembali sunyi.

Keesokan paginya, seorang laki-laki tua bernama Ki Mada dari Desa Mada yang berada di utara bukit itu sedang mencari kayu di dekat bukit itu. Sayup-sayup mendengar suara tangis bayi. Instingnya membawanya berjalan ke arah suara tersebut.

Betapa terkejutnya dia menemukan seorang bayi di dekat tubuh ibunya yang sudah kaku. Tanpa menunggu lama, lelaki sederhana tetapi hatinya luas seperti langit itu segera menguburkan sang perempuan dengan penuh hormat. Bayi itu kemudian dibawanya pulang dan diberi nama Jaka Mada.

Anak itu tumbuh di desa kecil dengan kehidupan yang keras. Ia tidak tahu siapa ibunya. Ia tidak tahu darah apa yang mengalir dalam tubuhnya. Namun sejak kecil ia berbeda. Matanya tajam seperti elang. Pikirannya cepat seperti kilat. “Kenapa aku selalu merasa dilahirkan untuk sesuatu yang besar?” suatu hari ia bertanya pada Ki Mada.

Orang tua itu tersenyum. “Setiap manusia dilahirkan dengan takdirnya sendiri. Tapi hanya sedikit yang berani mengejarnya.” Kata-kata itu tertanam dalam hati Jaka Mada.

Hari terus berjalan cepat. Ketika menginjak usia dewasa, Jaka Mada pergi menuju Trowulan, Ibukota Majapahit untuk mengejar cita-citanya. Yaitu mendaftarkan diri sebagai prajurit Bhayangkara. Ia memulai dari pangkat paling rendah.

Namun kecerdasannya membuat para atasan terkejut. Ia mampu membaca strategi seperti membaca aliran sungai. Ia mampu bertarung seperti badai. Nama Jaka Mada perlahan tapi pasti berubah menjadi orang yang disegani sekaligus dihormati, dengan nama baru: Gajah Mada.

Ironisnya, tanpa disadarinya takdir mempertemukannya saudaranya seayah yang dahulu menjadi sebab ibunya terusir: Jayanegara, yang kini telah menjadi Raja. Suatu hari, raja itu hampir terbunuh dalam suatu aksi pemberontakan besar. Gajah Mada maju menyelamatkannya.

Berkat keberanian, kesaktiannya, dan kepemimpinannya dia menjadi orang kepercayaan raja. Kariernya pun melesat seperti anak panah. Ia tidak hanya menjadi prajurit Bhayangkara, bahkan telah menjadi komandan tertinggi pasukan elit kerajaan itu. Bahkan akhirnya ia kemudian diangkat menjadi Mahapatih Majapahit.

Namun ambisinya tidak berhenti di sana. Pada suatu sidang kerajaan, ia mengucapkan sumpah yang mengguncang sejarah, Sumpah Palapa. Ia bersumpah tidak akan menikmati kenikmatan dunia sebelum seluruh Nusantara bersatu di bawah Majapahit.

Banyak yang menganggapnya gila. Tetapi sejarah kemudian membuktikan sebaliknya. Wilayah demi wilayah tunduk. Laut dan pulau menyatu dalam satu kekuasaan.

Namun di tengah kejayaan itu, Gajah Mada sering memandang jauh ke arah barat, seolah melihat sesuatu yang tak terlihat oleh orang lain.

Kadang ia berbisik pelan,“Ibu… aku tidak tahu siapa dirimu… tetapi aku tahu engkau pasti menginginkan anakmu menjadi manusia yang berguna. Kini aku telah mewujudkan harapan ibu,” tukasnya.

Tahun-tahun berlalu. Ia bahkan mendirikan candi untuk menghormati leluhur besar Kertanegara, seolah darah sejarah memanggilnya. Perannya melebihi dari seorang raja.

Banyak orang bertanya-tanya: bagaimana mungkin seorang pejabat melakukan hal yang biasanya hanya dilakukan oleh raja?

Sebagian mengatakan itu karena kekuasaan. Sebagian lain mengatakan karena jasa. Namun ia memiliki jawabannya sendiri.

Bukit kecil tempat seorang permaisuri Raja Majapahit yang rela mati melahirkan seorang bayi laki-laki itu kemudian diberi nama Gunung Ratu. Bayi laki-laki itu tumbuh menjadi manusia yang kemudian mengubah sejarah Nusantara.

Filsuf Jawa sering berkata: “Seorang raja bisa lahir dari istana, tetapi seorang legenda sering lahir dari penderitaan.”

Jika Raden Wijaya mengetahui bahwa laki-laki yang berhasil mempersatukan Nusantara itu adalah darahnya dagingnya sendiri barangkali akan menjadi mahkota penyesalan paling berat yang pernah ia kenakan.

Karena kadang-kadang sejarah tidak dibangun oleh mereka yang berkuasa. Melainkan oleh mereka yang pernah diusir oleh kekuasaan. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#cerpen #kisah #kerajaan majapahit #majapahit #permaisuri #kerajaan #Sendang #trowulan #Cerita #lamongan #gajah mada #Ngimbang #doa