Oleh:
Desto Prastowo
Kabut pagi menggantung di antara batang-batang pohon jati tua, seolah enggan beranjak dari hutan yang menyimpan terlalu banyak keheningan. Di pucuk tertinggi pohon jati denok, yang kulitnya mulai mengelupas seperti ingatan yang hilang karena serangan Alzheimer, seekor elang muda berdiri gagah.
Sayapnya terbentang lebar, menyerupai panji perang yang baru dijahit, dan matanya menajam menembus lapisan kabut seperti ingin menaklukkan dunia yang belum ia kenal sepenuhnya.
Hari itu, ia resmi dinobatkan sebagai pemimpin Hutan Jati, menggantikan rusa tua yang wafat dalam hening, meninggalkan keseimbangan rapuh yang dibangunnya selama puluhan musim dengan langkah hati-hati dan dengus napas yang tak pernah memerintah.
“Elitisme adalah akar pemborosan!” seru elang, suaranya menggema dari pucuk ke akar. “Kita akan pangkas. Kita akan rampingkan. Kita akan efisien!”
Sorak sorai pun pecah dari barisan pemangsa: harimau mengaum pendek, serigala mengangkat moncong, dan buaya mengatupkan rahangnya dengan bunyi yang menyerupai tepuk tangan.
Di bawah, semut-semut pekerja hanya saling pandang. Tak ada tepuk, tak ada sorak. Hanya diam yang menggumpal di antara kaki-kaki kecil mereka, seperti tanah yang mulai kehilangan air.
Hujan Asam Kebijakan
Beberapa hari kemudian, kabar perubahan turun ke dasar hutan seperti hujan asam, tak terlihat, tapi terasa menggigit sampai ke akar kehidupan.
“Mulai musim ini,” kata tikus tanah, sang pengawas baru yang mengenakan rompi dari serat bambu dan lencana daun kering, “jatah gula kalian dipotong separuh. Cadangan biji harus disetor ke gudang pusat. Ini demi stabilisasi ekosistem.”
Seekor semut tua mengangkat kepala, tubuhnya gemetar bukan karena usia, tapi karena beban yang tak pernah ringan. “Tapi kami sudah bekerja siang malam. Bagaimana kami bisa bertahan?”
“Pertanyaan tidak produktif,” sahut tikus tanah, suaranya datar seperti tanah liat yang retak. “Perintah pemimpin adalah hukum. Hukum itu hitam-putih, tidak abu-abu.”
Di sudut lain, seekor belalang yang biasa bernyanyi di sore hari kini duduk murung di balik daun waru yang mulai menguning. “Aku diminta mencatat jumlah daun yang kumakan setiap hari. Katanya agar transparan. Katanya agar adil.”
Seekor kupu-kupu muda mendekat, sayapnya masih berkilau warna pagi. “Lalu… apakah kau masih akan bernyanyi?”
Belalang menghela napas panjang, seperti angin yang kehilangan arah. “Mungkin nanti… kalau masih ada daun yang tersisa. Kalau nyanyian tak dianggap pemborosan. Jikalau menyanyi tidak ditagih royalty.”
Sementara itu, gajah tetap mandi di kolam pribadi yang dijaga dua buaya berseragam, mereka tak bicara, hanya mengawasi dengan mata yang tak pernah berkedip. Harimau tetap tidur di bawah kanopi sutra, mimpinya tak terganggu oleh laporan semut atau nyanyian belalang. Dan elang, sang pemimpin, membangun sarang baru dari benang emas impor dari hutan tetangga, konon benang itu tahan badai, meski tak pernah menyentuh tanah. Sarangnya kedap suara, sehingga nyanyian belalang, lolongan anjing hutan ataupun suara berisik burung jalak, tak akan terdengar olehnya.
Di antara akar-akar jati, bisik-bisik mulai tumbuh. Bukan pemberontakan, belum. Hanya pertanyaan yang tak diizinkan tumbuh di siang hari.
Pohon yang Membisu
Di malam yang tak lagi ramah bagi nyanyian belalang, seekor tokek tua merayap pelan di dinding pohon mahoni. Tubuhnya menyatu dengan kulit batang, suaranya tak lagi sekadar “tek-kek” yang memecah sunyi, tapi telah berubah menjadi sistem pencatatan. Ia tak menulis, tapi mengingat. Ia tak bicara, tapi merekam.
Setiap malam, ia menghitung suara-suara yang tak terdengar di siang hari: Desah semut yang mengeluh pelan saat jatah gula tak cukup untuk anak-anaknya. Gumam belalang yang mencoba menyusun lagu dari daun-daun yang tinggal separuh. Bisik kupu-kupu muda yang bertanya-tanya apakah warna sayapnya masih berguna di dunia yang serba menuntut ini.
Tokek mencatat semuanya dalam ingatan yang tak bisa disita. Ia tahu, suara-suara kecil itu tak masuk laporan resmi. Ia tahu, pemangsa tak pernah mendengar suara yang tak mengaum.
Suatu malam, ia berkata pelan kepada pohon jati denok yang telah melihat semuanya, “Mereka menyebut ini efisiensi dan stabilisasi. Tapi aku hanya mendengar ketimpangan yang makin rapi seperti simfoni yang dimainkan tanpa satu pun nada sumbang, meski sebagian instrumen tak pernah diberi suara.”
Pohon itu tak memiliki suara, tapi gurat di kulit batangnya adalah arsip yang tak bisa dibantah, rekam jejak musim, luka, dan keputusan yang tak pernah ia buat sendiri. Daun-daunnya gugur satu per satu, bukan karena panggilan musim, melainkan karena beban yang perlahan menggerogoti kekuatannya. Ia tak runtuh, tapi ia menyerah pelan-pelan, seperti seseorang yang terlalu lama memikul dunia tanpa pernah diminta bicara.
Perlawanan yang Sunyi
Maka tibalah hari ketika semut-semut berhenti bekerja. Mereka tak membawa gula, tak memikul biji. Mereka hanya berbaris diam di sepanjang akar pohon jati, membentuk barisan yang menyerupai kalimat-kalimat yang hanya bisa dibaca oleh cahaya pagi yang murni :
“Kami bukan mesin. Kami hidup.”
Belalang, yang dulu menyanyi untuk senja, kini mencoretkan kata-kata di permukaan daun jati yang mulai mengering:
“Kami pernah punya hutan yang bersolek dan bernyanyi. Kini hanya angka yang berkuasa.”
Tikus tanah, sang pengawas, panik. Ia berlari menyusuri lorong-lorong bawah tanah, membawa berita ke pucuk kekuasaan. “Ini pembangkangan!” katanya dengan suara gemetar kepada elang.
Elang tak menjawab segera. Ia hanya menatap grafik yang digoreskan di tanah dengan cakar tajamnya, garis-garis naik turun yang tak pernah menyentuh kenyataan.
“Ini hanya resistensi sementara,” ujarnya akhirnya, dingin dan datar. “Mereka akan terbiasa. Semua makhluk bisa dilatih.”
Di kejauhan, pohon-pohon tua bergoyang pelan. Bukan karena angin, tapi karena sesuatu yang mulai bergeser di dalam tanah.
Kemenangan yang Hampa
Musim kemarau datang lebih cepat dari yang dijadwalkan oleh kalender alam. Tanah mulai retak seperti kulit tua yang kehilangan kelembapan harapan. Sungai menyusut, menyisakan aliran kecil yang malu-malu menyentuh bebatuan. Pohon-pohon tak lagi berbunga, bukan karena musim, tapi karena semangat hidup telah pergi bersama nyanyian yang dulu mengisi hutan.
Hutan menjadi sunyi. Bukan sunyi yang teratur, tapi sunyi yang kehilangan makna. Efisiensi telah memangkas suara, warna, dan jeda.
Suatu pagi, seekor anak semut memanjat pelan ke batang pohon jati yang hampir lapuk. Dengan kaki mungilnya, ia menulis di kulit yang mulai mengelupas:
“Kami bukan beban. Kami akar. Tanpa kami, hutan hanya langit kosong.”
Elang membaca tulisan itu dari sarangnya yang tinggi. Sayapnya sempat gemetar, seperti tersentuh angin yang membawa kenangan. Tapi ia memilih terbang lebih tinggi, mencari langit yang lebih biru, langit yang tak perlu mendengar suara dari bawah.
Di bawahnya, hutan pelan-pelan berubah menjadi padang tandus. Tak ada nyanyian, tak ada semut, tak ada pohon yang berbunga. Hanya angka yang tersisa, tertulis rapi di laporan akhir musim.
Efisiensi telah menang. Dan hutan pun hilang.
Langit yang Kosong
Musim demi musim berlalu. Dari langit, elang terbang tanpa tujuan, melewati tanah tandus yang pernah menjadi rumahnya. Tak ada lagi suara serangga, tak ada wangi bunga, hanya debu yang beterbangan.
Di kejauhan, bayangan pohon jati denok yang pernah kokoh kini hanya tinggal tunggul.
Angin berbisik lirih:
“Engkau bisa memangkas biaya, memangkas suara, memangkas hidup… Tapi siapa yang akan memelihara langitmu jika akar telah mati?”
Elang berhenti mengepakkan sayapnya sesaat, menatap kekosongan di bawah. Tapi ia tak tahu ke mana harus kembali. Sebab hutan yang ia korbankan atas nama efisiensi tak lagi ada, dan langit pun terasa terlalu sepi untuk ditinggali sendirian. (*)
Blora, Agustus 2025
Editor : Yuan Edo Ramadhana