Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Bojonegoro, Bumi Angling Dharma dan Samin: Menyatukan Legenda & Ajaran Lokal sebagai Identitas

Bachtiar Febrianto • Jumat, 8 Agustus 2025 | 18:12 WIB
PERTAHANKAN TRADISI: Proses akad nikah warga Samin di Dusun Jepang, Desa/Kecamatan Margomulyo.(IST/RDR.BJN)
PERTAHANKAN TRADISI: Proses akad nikah warga Samin di Dusun Jepang, Desa/Kecamatan Margomulyo.(IST/RDR.BJN)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kabupaten Bojonegoro kini mengemban kebanggaan tersendiri sebagai “Bumi Angling Dharma” dan pusat ajaran Samin. Dua warisan budaya yang berbeda asal usulnya ini menjadi akal dan jiwanya, memperkuat identitas lokal sekaligus nilai-nilai luhur bagi masyarakat Bojonegoro.

Legenda Prabu Angling Dharma — Bumi Angling Dharma

Legenda Angling Dharma berkembang dalam tradisi lisan sejak era Hindu‑Buddha. Sosoknya digambarkan sebagai raja dari Kerajaan Malawapati, keturunan Jayabaya dan Arjuna, dengan kesaktian Aji Gineng dan kemampuan berbicara dengan binatang.

Masyarakat Bojonegoro meyakini bahwa situs Petilasan Angling Dharma yang berada di Desa Wotanngare, Kecamatan Kalitidu, merupakan tempat persinggahan sang tokoh ketika dikutuk menyerupai burung dan tiba di Bojonegoro. Lokasi ini kini direnovasi sebagai destinasi wisata religi, dengan akses yang lebih mudah bagi pengunjung.

Identifikasi legenda ini sebagai jati diri Bojonegoro semakin kuat karena institusi publik memakai namanya: Gapura sambutan bertuliskan "Selamat Datang di Bumi Angling Dharma", stadion, bahkan tim sepak bola Persibo dijuluki “Laskar Angling Dharma”.

Ajaran Samin Surosentiko — Wajah Gotong Royong dan Integritas

Berbeda dengan legenda mistis, ajaran Samin lahir dari perjuangan anti-kolonial di akhir abad ke-19 oleh Samin Surosentiko. Ia mengajak masyarakat melakukan resistensi secara damai dengan menolak pajak dan tetap mengambil kayu jati (menyatu dengan alam) untuk kehidupan sehari-hari. Ajaran Samin menekankan nilai seperti kejujuran, kesederhanaan, kesetaraan, dan gotong-royong, dipadukan dalam semboyan sami-sami sapodo saduluran dan eling lan waspodo.

Pemkab Bojonegoro tengah mengaktualisasi warisan ini melalui Samin Festival tahunan. Festival ke-9 (5 Juli 2025) mengambil tema “Obor Sewu”, menampilkan kegiatan “Membatik Obor Sewu”, yang merupakan batik motif Samin, dan penyerahan disertasi Pitutur Luhur sebagai simbol kolaborasi antara akademisi dan tokoh Samin setempat.

Selain itu, Pemkab juga menerbitkan kebijakan agar ASN mengenakan udheng dan slayer Obor Sewu khas Samin yang memicu semangat UMKM lokal produksi udheng, sebagai wujud pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi.

Simbolisasi Nilai Lokal: Memaafkan, Gotong Royong, dan Kebanggaan Budaya

Angling Dharma dan Samin menjadi dua entitas yang berbeda tapi saling melengkapi: yang satu mewakili warisan mitologis dan sejarah masyarakat dengan kekuatan, cinta, dan pengorbanan, sementara yang lain merepresentasikan integritas, kedamaian, dan solidaritas masyarakat di zaman modern.

Hingga kini, petilasan Angling Dharma terus dipelihara sebagai warisan budaya, sedangkan ajaran Samin kian hidup melalui festival, pakaian adat, dan kebijakan pemerintah daerah. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, UMKM, dan akademisi menjadi fondasi kuat untuk menjadikan Bojonegoro tidak hanya sebagai daerah kaya sejarah, tetapi juga sebagai laboratorium hidup bagi nilai-nilai luhur.

Dengan begitu, Bojonegoro berhasil merajut dua masa—legenda dan warisan kehidupan—menjadi identitas masa depan yang membanggakan. Selamat datang dan selamat melestarikan keunikan Bumi Angling Dharma dan Samin. (feb)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Identitas Lokal #destinasi wisata #kayu jati #Budaya #persibo #angling dharma #ajaran samin #obor sewu #samin surosentiko #bojonegoro #samin #petilasan #Tradisi