RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Batik Bojonegoro terus mempertegas identitasnya di panggung nusantara dan internasional. Sejak dilahirkan lewat lomba desain pada Desember 2009, motif-motif unik hasil kreasi warga setempat kini telah mencapai total hingga 20 motif yang terdaftar dalam Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) .
Ragam Batik dan Filosofinya
Sepuluh dari motif tersebut dikenal sebagai batik Jonegoroan original:
- Gatra Rinonce — menampilkan pipa gas dan kilang minyak, melambangkan kekayaan alam Bojonegoro. Warna hijau-kuning harapkan keseimbangan ekologis dan kemajuan ekonomi.
- Jagung Miji Emas — lambang keunggulan agraris, simbol harapan terhadap jagung merajai pasar pertanian.
- Mliwis Mukti — gambar burung legendaris jelmaan Angling Dharma, menyiratkan kesucian dan perlindungan spiritual.
- Parang Dahono Nunggal — garis seperti kobaran api abadi, pengingat semangat berkobar dalam masyarakat.
- Parang Lembu Sekar Rinambat — sapi dan bunga merayap, simbol peternakan yang berkembang.
- Pari Sumilak — padi melambai, harapan Bojonegoro menjadi lumbung pangan nasional.
- Rancak Thengul — wayang kayu khas, bentuk apresiasi budaya lokal.
- Sata Gondo Wangi — daun tembakau harum, penghormatan pada komoditas unggulan setempat.
- Sekar Jati — dedaunan jati, simbol kekokohan, kualitas tinggi, dan pertumbuhan berkelanjutan.
- Gastra Rinonce — variasi lain dari motif Gatra, penegasan sumber daya alam.
Kelima motif tambahan lainnya—Surya Salak Kartika, Woh Roning Pisang, Belimbing Lining Lima, Pelem Pelem Sumilar, dan Sekar Rosella Jonegoroan—ditambahkan antara 2013 hingga 2019, memperkaya makna Batik Jonegoroan.
Surya Salak Kartika merepresentasikan salak Bojonegoro khas Desa Wedi dan Tanjungrejo. Sementara Woh Roning Pisang menggambarkan keseimbangan sosial melalui pohon pisang susu besar.
Februari 2025, Dekranasda Bojonegoro meluncurkan motif baru “Sukmaswasti”, terinspirasi kupu-kupu dan dibatik oleh desainer muda Seto (Kecamatan Temayang). Motif ini ditampilkan di Fashion Etnik Festival Surabaya, mempertemukan nilai tradisi dan estetika modern. Inisiatif ini bagian dari strategi memperluas pasar UMKM batik setempat.
Dampak Ekonomi & Budaya
Registrasi 20 motif ke dalam HAKI menunjukkan Batik Bojonegoro tak hanya seni, tapi juga bisnis kreatif. Sejak 2024, Pemkab rutin menggelar sayembara desain dan Pekan Batik di alun-alun kota untuk mendorong generasi muda berkreasi. Pemerintah juga mewajibkan ASN dan sekolah mengenakan batik lokal saat hari tertentu, memperkuat penggunaan lokal saat ini.
Dengan potensi alam Bojonegoro—migas, perkebunan jati, salak, pisang, tembakau—dan kreativitas pengrajin, batik lokal punya peluang ekspor, ekoprint dengan pewarna alami, hingga kolaborasi dengan desainer nasional. Program “kupu-kupu emas” seperti Sukmaswasti memancing perhatian kaum milenial menuju batik kontemporer.
Batik Bojonegoro kini bukan hanya simfoni warna dan motif, melainkan jembatan antara identitas lokal, spirit wirausaha, dan napas inovasi. Dari gas bumi hingga kupu-kupu muda, satu kain menyulam kisah keseimbangan antara budaya, ekonomi, dan alam.
Kedepannya, Batik Bojonegoro siap menjadi ikon budaya yang terus berkembang, mendunia, dan membawa kemakmuran. (feb)
Editor : Yuan Edo Ramadhana