Menurut catatan sejarah, Raden Tumenggung Wilotikto merupakan Bupati Blora pertama pada 1749-1762. Pengangkatan Raden Tumenggung Wilotikto sebagai Bupati Blora, pada 11 Desember 1749. Dan hari itulah ditetapkan sebagai awal mula Kabupaten Blora.
LUKMAN HAKIM, Radar Blora
ANGIN berhembus semilir di kawasan perkotaan Blora kemarin seiring menjelang Hari Jadi ke 273 Blora. Seakan memasuki mesin waktu, ternyata 11 Desember sebagai hari jadi itu seiring pengangkatan bupati pertama yakni Raden Tumenggung Wilotikto (biasa diucapkan: Wilatikta).
Widya Sinta Himayanti sejarawan Blora menyinggung sedikit jejak Wilotikto dalam bukunya berjudul Makam Keluarga Tirtonatan dan Profil Bupati-Bupati Blora Tempo Dulu. Dalam catatannya, Wilotikto merupakan ipar dari Djajeng Tirtonoto, menikah dengan adik dari Djajeng Tirtonatan yakni Raden Ayoe Tumenggung Rondo dari Lasem, Kabupaten Rembang.
“Awal Wilotikto Bupati Blora saat masih menjadi Mataram, setelah pisah ikut menumpas pemberontakan bersama Djajeng Tirtonoto,” jelasnya.
Setelah pembagian kekuasan pasca Perjanjian Giyanti, di wilayah Blora terjadi pemberontakan oleh Raden Guntur. Kasunan Surakarta pimpin Paku Buwana III membuat sayembara memberantas pemberontakan dengan upah diberikan wilayah dan menjadi bupati.
Akhirnya, menurut Widya, keduanya menjabat sebagai bupati Blora atas kebijakan Paku Buawana III, Djajeng Tirtonatan mejabat Bupati Blora Barat disebut Kasepuhan. Sedangkan, Wilotikto mejabat bupati Blora Timur atau Kanoman berada sekitar Ringin Kembar Desa Kunden.
“Lalu Wilotikto wafat digantikan istrinya dikenal dengan Tumenggung Rondo. Karena tidak mempunyai anak, akhirnya tidak punya penerus,” jelasnya.
Karena tidak ada penerus, menurut Widya, akhirnya Tirtonatan berkeinginan menyatukan Blora seiring menjadi Kasepuhan dan Kanoman. Hal itu ditanggapi Kasunan Surakarta. Akhirnya pada 1768 Paku Buwana III menyatukan kedua wilayah di bawah kepemimpinan Djajeng Tirtonatan.
Sedikit berbeda dikemukakan Temy Setyawan pemerhati sejarah dan kebudayaan Blora. Dia membenarkan, Wilotikto merupakan bupati pertama. Namun, berbeda diungkapkan Widya, sebab Wilotikto lebih condong kepada Kasultanan Jogjakarta. Sebab pada saat itu Blora termasuk wilayah Kasultanan Jogjakarta.
“Setelah Perjanjian Giyanti itu terbagi menjadi dua Kasunan dan Kasultanan. Wilotikto berada di kubu Kasultanan Jogja,” bebernya.
Selain itu, menurutnya, istri Wilotikto ada dua. Pertama trah Lasem yakni Tumenggung Rondo dan satu lagi istri di Tuban. Hal itu berdasar catatan silsilah keluarga dimilikinya. Sehingga ada keturunan dari Wilotikto sampai sekarang.
Namun, saat ditanya terkait nama istri Wilotikto, ia mengaku belum tercatat. “Untuk nama istri Wilotikto yang dari Tuban itu belum ada catatannya,” terangnya. (luk/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto