Kabar prestasi atlet renang asal Bojonegoro jarang terdengar. Padahal Bojonegoro dilintasi sungai terpanjang Pulau Jawa yakni Bengawan Solo. Ternyata tak ada jaminan semua orang Bojonegoro mampu berenang.
BHAGAS DANI PURWOKO, Radar Bojonegoro
KETIKA bicara atlet berprestasi dari Bojonegoro, paling cepat dijawab atlet cabang olahraga (cabor) panahan dan angkat besi. Lalu salah satu cabor yang jarang tersorot prestasinya cabor renang. Ketua Pengurus Cabang (Pengcab) Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) Bojonegoro Hendri Rahman Susetyo mengakui hal tersebut.
“Butuh intervensi ekstra menumbuhkan minat pada cabor renang,” kata Hendri.
Ia baru dipilih jadi ketua sekitar Oktober lalu. Pria kelahiran 1990 itu menilai potensi dimiliki anak-anak Bojonegoro tentu ada. “Karena kurang pas kalau orang Bojonegoro tidak bisa berenang. Sebab ada Bengawan Solo. Juga, sudah banyak kolam renang tersebar di berbagai kecamatan,” terangnya.
Salah satu penyebab minimnya atlet renang yakni hampir tidak pernah ada kompetisi tingkat lokal. “Klubnya cuma satu yakni Taman Tirta,” ucapnya. Sehingga pihaknya menjaring beberapa perwakilan ingin bentuk klub renang. Saat ini sudah ada tiga klub renang di antaranya klub renang BWS, Dander, dan Kedungadem.
Selanjutnya, empat klub renang itu akan dibuatkan kompetisi renang tingkat lokal tahun depan. “Kompetisi jadi ajang membidik bibit-bibit atlet renang Bojonegoro,” bebernya. Mengingat saat ini masih terbatas atlet renang.
Ada salah satu atlet renang Bojonegoro prestasinya membanggakan, yakni akan mewakili Indonesia di ajang 44th SEA Age Group Swimming Championships 2022 Malaysia. “Kompetisinya 17-19 Desember mendatang. Atletnya bernama Muhammad Haviz Rizal Wibowo. Saat ini jalani pelatnas,” ungkapnya.
Sebelumnya, Haviz memboyong dua medali perak ajang Popda di Sidoarjo awal November lalu. “Haviz juara dua nomor 200 meter gaya punggung dan 100 meter gaya punggung,” imbuhnya.
Rentetan prestasi Haviz tak perlu ditanya lagi, ke depannya perlu regenerasi atlet. Saat ini usia Haviz sekitar 14 tahun dan siswa SMPN 5 Bojonegoro.
Serta, perlu menjaring atlet-atlet baru dengan tur ke beberapa sekolah dasar. Hendri menilai tidak sedikit anak-anak les renang secara privat. Jadi minat orang pada renang itu tidak pernah surut. Karena renang sebagai keahlian dasar ketika bertahan hidup. “Nanti mereka-mereka yang awalnya hanya untuk keahlian semata, nanti perlu kami dorong ke arah prestasi,” bebernya. (*/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto