Awalnya hanya seribu perak, nasi pecel Mak Yah di depan Pasar Sumberejo menjadi jujukan penikmat kuliner malam di wilayah timur Bojonegoro. Cita rasa tetap sama selama puluhan tahun membuat langganan awet.
M. IRVAN RAMADHON, Radar Bojonegoro
KERAMAIAN di Pasar Sumberejo tetap awet meski malam mulai larut. Suara bising kendaraan melitas di jalan nasional tersebut berpadu dengan masyarakat menikmati malam. Mulai dari ngopi di trotoar hingga manyantap kuliner sekitar pasar.
Salah satu kuliner tidak boleh dilewatkan yakni Nasi Pecel Mak Yah. Tepatnya di seberang Pasar Sumberejo. Kain kuning menyala menjadi penanda warung tidak terlalu luas tersebut. Sederhana dan suasananya khas kuliner tradisional.
Aroma bumbu pecel seketika tercium ketika berada di dekat warung. Pembeli tampak lahap menikmati beragam sajian. Duduk di kursi tertata pada trotoar sembari menikmati pemandangan kendaraan melintas dan keramaian pasar menambah selera makan. Sesekali terdengar alunan musik dari area pasar, suasana kian sahdu.
“Monggo mas,” sapa ibu penjual nasi pecel. Keramahan Idayah atau sering dipanggil Mak Yah membuat pembeli merasa menjadi raja.
Pembeli bisa memilih menu makanan. Mulai dari nasi kare, nasi pecel, lontong pecel, hingga lontong kare. Paling banyak diminati nasi pecel kuah kare. Harga makanan terbilang sangat murah. Dengan uang Rp 6.000, nasi pecel kuah kare dengan tempe goreng hangat sudah bisa dinikmati. Bahkan sebelum hanga minyak goreng naik, hanya Rp 5.000.
“Dulu awal buka hanya seribu perak,” ungkap perempuan 42 tahun tersebut.
Setiap malam, beras 24 kilogram habis. Mulai memasak pukul 15.00 dan buka hingga larut malam, pukul 01.00. Sekitar 300 porsi nasi pasti ludes. Tak tanggung-tanggung pembeli bukan hanya dari wilayah Sumberejo sekitarnya, pembeli dari Lamongan hingga Surabaya menjadi langganan saat melintas jalan Bojonegoro-Babat itu.
Perempuan berjualan nasi sejak berusia 24 tahun itu berusaha menjaga cita rasa. Terutama bahan yang digunakan harus diamati serius ketika belanja bahan-bahan ke pasar. Tentu untuk mendapat bahan yang bagus, sehingga cita rasa masakan tetap nikmat.
Idayah dibantu sang suami Sucipto sudah membuka usaha sejak 18 tahun lalu. Tepat ketika anaknya masih berusia 4 tahun. Bermula dari keprihatinan saat sang suami sakit, Mak Yah ingin membantu menambah penghasilan.
“Awalnya berjualan di emperan Pasar Sumberejo, kemudian ketika pasar dibangun pindah ke seberang pasar,” terangnya.
Dari berjualan nasi pecel, Idayah mampu mengantarkan anaknya hingga bangku kuliah. Tentu dengan ketekunan dan tekad yang dalam mencari rezeki. (*/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto