alexametrics
30.7 C
Bojonegoro
Monday, May 16, 2022

Sedapnya Nasi Pecel Tanggul Ledok Kulon

Selalu Dilapisi Daun Pisang, Pelanggan Tembus Warga Tuban

Memulai usaha sejak 2005 lalu, saat ini pelanggan sudah banyak yang datang dari luar desa hingga luar daerah. Uniknya, daun pisang tidak pernah lepas dari pecel racikan Lina

M. LUKMAN HAKIM, Radar Bojonegoro

 

UDARA malam seperti mematuk pori-pori kulit saat perjalanan melewati tanggul Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Kota. Tanggul ini menjadi pembatas antara Bengawan Solo dan dataran permukiman warga. Selain terkenal sebagai antisipasi banjir, di atas tanggul Ledok juga ada antisipasi bagi masyarakat yang perutnya “keroncongan” ketika malam.

 

Pecel Mbak Lina namanya. Saat Jawa Pos Radar Bojonegoro singgah di warung kecil terletak di tanggul sebelah utara, banyak masyarakat antre dan menyantap nasi pecel khas tanggul tersebut. Bahkan sebelum masuk menuju dapur tempat memasak, ada pembeli yang tanduk alias tambah seporsi lagi.

 

“Tambah lagi mbak, tempenya dua,” suara itu menjadi pemicu penasaran rasa dari nasi pecel buatan ibu asal Ledok Kulon tersebut.

 

Lina sudah berjualan sejak 2005 lalu. Telaten berjualan nasi pecel hingga saat ini. Merintis usaha dari awal bersama keluarga kecilnya, dengan belajar otodidak membuat racikan pecel yang khas. Bumbu kacang dengan perpaduan dedaunan menjadi corak tersendiri masakannya.

Baca Juga :  Produsen Tahu Berharap Subsidi Harga Kedelai

 

Lina tidak pernah melepaskan dari daun pisang dalam sajian nasi pecel. Meski sudah ada piring, penyajiannya masih dialasi dengan daun pisang. Begitupun ketika dibungkus, tetap dilapisi daun pisang. “Memakai daun pisang ini sudah lama. Selain mudah mendapatkan juga ada kesan dalam hidangan nasi pecel,” ujarnya dengan ramah.

 

Dalam meracik bumbu pecel miliknya tidaklah mudah. Lina sudah mencoba beberapa kali hingga menemukan perpaduan seimbang antara manis, asin, dan gurih kacang. Rasa itu kemudian selalu menjadi senjata utama pengikat lidah para pemburu makan ketika malam.

 

“Pasnya gimana kurang begini digeser hingga akhirnya dapat rasa yang pas,” tuturnya.

 

Saat ini pelanggan Lina sudah tembus luar daerah. Bukan hanya warga sekitar, dan masyarakat perkotaan Bojonegoro. Namun, pelanggan yang datang hingga kawasan pinggiran Kabupaten Tuban. Mulai Kecamatan Soko, Rengel, dan Parengan. Ada juga yang lokal seperti Kalitidu, bahkan ada yang rombongan malam hanya mencoba nasi pecelnya.

Baca Juga :  Bermula Rapat para Ustad, Bahan Rempah dari Wali Santri

 

“Pengunjungnya dari warga sekitar dan luar daerah. Ada yang order online melalui perantara, orangnya datang ke sini menggunakan ojek online,” tuturnya.

 

Dalam satu malam, lina bisa menghabiskan 15 sampai 20 kilogram beras. Jam buka awalnya tengah malam, pukul 23.30. Namun, saking banyaknya yang antre, akhirnya kini buka habis Isya sampai sepertiga malam.

 

Alasannya berjualan ketika matahari tak lagi bersinar karena nasi pecel lebih enak dinikmati kala malam. Alasan lainnya yakni menyediakan makanan bagi orang yang lapar saat malam hari.

 

Sementara itu, masih ada satu lagi warung malam yang populer di Ledok Kulon. Yakni warung Nasi Lodeh Bu Sinar. Lokasinya hanya berjarak sekitar 350 meter dari warung Nasi Pecel Mbak Lina. Sama-sama buka ketika malam.

 

Hanya, warung Bu Sinar, populer dengan nasi lodeh. Khas nasi lodehnya dengan tempe goreng menjadi kenangan penikmat kuliner kala malam. (*/rij)

Memulai usaha sejak 2005 lalu, saat ini pelanggan sudah banyak yang datang dari luar desa hingga luar daerah. Uniknya, daun pisang tidak pernah lepas dari pecel racikan Lina

M. LUKMAN HAKIM, Radar Bojonegoro

 

UDARA malam seperti mematuk pori-pori kulit saat perjalanan melewati tanggul Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Kota. Tanggul ini menjadi pembatas antara Bengawan Solo dan dataran permukiman warga. Selain terkenal sebagai antisipasi banjir, di atas tanggul Ledok juga ada antisipasi bagi masyarakat yang perutnya “keroncongan” ketika malam.

 

Pecel Mbak Lina namanya. Saat Jawa Pos Radar Bojonegoro singgah di warung kecil terletak di tanggul sebelah utara, banyak masyarakat antre dan menyantap nasi pecel khas tanggul tersebut. Bahkan sebelum masuk menuju dapur tempat memasak, ada pembeli yang tanduk alias tambah seporsi lagi.

 

“Tambah lagi mbak, tempenya dua,” suara itu menjadi pemicu penasaran rasa dari nasi pecel buatan ibu asal Ledok Kulon tersebut.

 

Lina sudah berjualan sejak 2005 lalu. Telaten berjualan nasi pecel hingga saat ini. Merintis usaha dari awal bersama keluarga kecilnya, dengan belajar otodidak membuat racikan pecel yang khas. Bumbu kacang dengan perpaduan dedaunan menjadi corak tersendiri masakannya.

Baca Juga :  Dibuat Bahan The, Tak Boleh Kena Sinar Matahari

 

Lina tidak pernah melepaskan dari daun pisang dalam sajian nasi pecel. Meski sudah ada piring, penyajiannya masih dialasi dengan daun pisang. Begitupun ketika dibungkus, tetap dilapisi daun pisang. “Memakai daun pisang ini sudah lama. Selain mudah mendapatkan juga ada kesan dalam hidangan nasi pecel,” ujarnya dengan ramah.

 

Dalam meracik bumbu pecel miliknya tidaklah mudah. Lina sudah mencoba beberapa kali hingga menemukan perpaduan seimbang antara manis, asin, dan gurih kacang. Rasa itu kemudian selalu menjadi senjata utama pengikat lidah para pemburu makan ketika malam.

 

“Pasnya gimana kurang begini digeser hingga akhirnya dapat rasa yang pas,” tuturnya.

 

Saat ini pelanggan Lina sudah tembus luar daerah. Bukan hanya warga sekitar, dan masyarakat perkotaan Bojonegoro. Namun, pelanggan yang datang hingga kawasan pinggiran Kabupaten Tuban. Mulai Kecamatan Soko, Rengel, dan Parengan. Ada juga yang lokal seperti Kalitidu, bahkan ada yang rombongan malam hanya mencoba nasi pecelnya.

Baca Juga :  Mudah Jinak, Sering Dibawa ke Warung Kopi

 

“Pengunjungnya dari warga sekitar dan luar daerah. Ada yang order online melalui perantara, orangnya datang ke sini menggunakan ojek online,” tuturnya.

 

Dalam satu malam, lina bisa menghabiskan 15 sampai 20 kilogram beras. Jam buka awalnya tengah malam, pukul 23.30. Namun, saking banyaknya yang antre, akhirnya kini buka habis Isya sampai sepertiga malam.

 

Alasannya berjualan ketika matahari tak lagi bersinar karena nasi pecel lebih enak dinikmati kala malam. Alasan lainnya yakni menyediakan makanan bagi orang yang lapar saat malam hari.

 

Sementara itu, masih ada satu lagi warung malam yang populer di Ledok Kulon. Yakni warung Nasi Lodeh Bu Sinar. Lokasinya hanya berjarak sekitar 350 meter dari warung Nasi Pecel Mbak Lina. Sama-sama buka ketika malam.

 

Hanya, warung Bu Sinar, populer dengan nasi lodeh. Khas nasi lodehnya dengan tempe goreng menjadi kenangan penikmat kuliner kala malam. (*/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/