Lasimin dan Kuntasi menua bersama menjajakan nasi pecel. Racikan kulinernya membuat sopir truk ketika malam merindu menyantapnya sebagai pengisi perut.
LUKMAN HAKIM, Radar Bojonegoro
JALAN aspal menuju Pasar Dander tampak basah. Sehabis diguyur hujan sekitar pukul 01.30 ketika akhir Ramadan lalu. Tampak di selatan pertigaan sebelum masuk gapura Pasar Dander, gerobak sederhana parkir dengan beberapa hidangan.
Lampu redup menandakan kesederhanaan. Sementara berjejer para lelaki muda hingga tua antre mendapatkan sepiring nasi pecel. Itulah tempat pasangan suami istri (pasutri) penjual nasi pecel, yakni Lasimin dan Kuntasi. Legendarisnya, pasutri sudah keriput ini hanya berjualan ketika tengah malam.
Malam itu, beberapa pelanggan sudah menunggu racikan pecel khas Mbah Kuntasi. Yang menjadi keunikannya dalah bumbu pecel masih menyisakan butiran kacang kecil-kecil. Beragam kulupan (dedaunan bergizi) juga kacang panjang.
Pasangan tersebut berjualan nasi pecel sejak 1985. Hingga kini keduanya masih setia bersama berjualan mengisi perut masyarakat saat malam. Nenek berusia 62 tahun itu mengaku sebelum berjualan nasi pecel terlebih dahulu jualan es dawet. Lokasinya juga di sekitar Pasar Dander.
“Dulu jualan es dawet di pinggir Pasar Dander masih bangunan lama, belum seperti sekarang,” ujar nenek kelahiran 1960 tersebut.
Hanya, berjualan es dawet tidak ramai dan kurang menguntungkan. Selanjutnya, pasutri sederhana ini memilih untuk mengganti usahanya dengan berjualan nasi pecel. Awalnya berupa nasi bungkusan, belum menyediakan porsi piring.
“Pembeli langsung bungkusan, dibawa pulang,” tutur nenek mempunyai satu anak tersebut.
Ide mengubah konsep nasi bungkus menjadi makan di tempat setelah mendapat saran para sopir truk. Sopir truk kerap berhenti membeli nasinya ketika malam. “Kami ikut saran dari para sopir yang biasanya mampir, akhirnya diubah. Ternyata laris hingga saat ini,” ujarnya dengan senyum.
Pasutri ini berjualan mulai pukul 21.00 hingga 02.00. Paling lama hingga pukul 03.00 dagangan sudah habis. Setiap harinya pasutri tersebut bisa menghabiskan beras hingga 15 kilogram. Pembeli yang perutnya “keroncongan” berdatangan paling banyak pukul 00.00 ke atas. Terlebih ketika malam minggu semakin ramai.
“Malam minggu justru cepat habis. Belum sampai jam 02.00 sudah direngkesi (persiapan menutup warung),” tutur Lasimin pernah mengenyam sekolah rakyat (SR) dengan sabak sebagai alat tulis itu.
Pasutri memiliki satu putra ini berbagi tugas dalam berjualan.
Kuntasi meracik nasi pecel, sedangkan Lasimin menyediakan minuman teh dan kopi. Pasutri ini bergantian saat menggoreng tempe. “Beli bahan-bahannya ya di Pasar Dander,” ujar kakek berusia 65 tahun itu.
Zaman bergerak, hingga saat ini pasutri ini sudah puluhan tahun menggeluti dunia kuliner nasi pecel. Usia boleh senja, namun semangat berjualan tak reda. Akhirnya mengajak seorang pembantu perempuan berjualan. “Karena sudah tua, butuh orang membantu,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.
Pembelinya kebanyakan masyarakat sekitar pasar. Terutama para sopir truk hendak menuju wilayah selatan, mulai Kecamatan Temayang hingga Kabupaten Nganjuk dan Madiun. Para sopir itu sekadar mengerem kendaraan sejenak menyantap nasi pecel legendaris di pertigaan Pasar Dander.
Seperti Lasimin dan Kuntasi, nasi pecel racikannya selalu bersanding tempe goreng hangat. Bisa memilih juga telur bali dan telur dadar. (*/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto