Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Perajin Mulai Berkurang, Penjualan Tetap Stabil

M. Yusuf Purwanto • Jumat, 15 April 2022 | 15:55 WIB
PAKAI PLITUR: Suvenir kerajinan kayu jati Desa Batokan memiliki karakter. Suvenir ini permintaannya stabil dan menembus pasar internasional. (LUKMAN HAKIM/RDR.BJN)
PAKAI PLITUR: Suvenir kerajinan kayu jati Desa Batokan memiliki karakter. Suvenir ini permintaannya stabil dan menembus pasar internasional. (LUKMAN HAKIM/RDR.BJN)

Perajin suvenir kayu jati di Desa Batokan, Kecamatan Kasiman, butuh regenerasi. Peran anak muda diperlukan menjaga eksistensi suvenir menembus pasar internasional ini hingga mendatang.



LUKMAN HAKIM, Radar Bojonegoro


 

BEGITU melintas Jembatan Padangan-Kasiman, utara Sungai Bengawan Solo, sudah tampak deretan permukiman warga. Rumah-rumah berderet. Berjarak 500 meter akan disuguhi rumah-rumah warga Desa Batokan, Kecamatan Kasiman, yang disulap menjadi showroom atau ruang pamer.

 

Nuansa sentra kerajinan kayu jati begitu tampak. Terlihat showroom terlihat beragam suvenir kayu jati. Rerata pekerja kerajinan orang-orang sudah berumur. Tentu diperlukan regenerasi untuk meneguhkan khazanah suvenir kayu jati Desa Batokan yang menembus pasar internasional.

 

Namun, perajin kerajinan kayu jati Desa Batokan mulai berkurang, padahal tren penjualan masih stabil. Untuk tetap diminati, saat ini ada sudah menyesuaikan zaman. Kerajinan sudah puluhan tahun menghidupi warga desa tersebut perlu peran generasi muda agar tetap eksis di kancah pasar internasioanal.

 

Fredi Mustofa salah satu perajin mengatakan, data dimiliki asosiasi pengrajin kayu jati saat ini jumlahnya kian berkurang. Diperkirakan sekitar 100-an perajin sekaligus memiliki showroom atau pemilik toko. Padahal, sebelumnya jumlahnya lebih 100 an orang. “Showroom-nya saja saat ini tinggal sekitar 15 an saja,” jelasnya.

 

Penurunan tersebut karena dampak pandemi. Selain itu karena kekurangan modal. Sehingga jika satu showroom memiliki 10 tenaga kerja dikurangi menjadi lima. Bahkan ada yang sudah tidak memproduksi lagi. “Sekarang paling agak berkurang biasanya terkendala modal, peran generasi muda diperlukan agar kerajinan ini tetap eksis,” tuturnya.

 

Meski seperti itu, saat ini penjualan kerajinan kayu masih stabil, terutama untuk jenis produk wadah air dan tempat tisu. Fredi mengungkapkan kerajinan diproses dengan berbagai tahapan. Mulai perajin dengan mesin bubut. Selanjutnya diserahkan kepada showroom. Dan dilakukan pengerjaan memoles dan membuat ukiran.

 

“Sudah ada pembagian masing-masing, misalkan ada yang khusus membuat wadah tisu,” terangnya.

 

Kristiani perajin lainnya mengungkapkan, produksi kerajinan kayu jati saat ini paling diminati pesanan lokal ialah nampan, wadah minuman dan tempat tisu. Terlebih saat ini puasa Ramadan, permintaan semakin bertambah banyak.

 

“Produknya banyak, tapi yang paling laris saat ini tas spiral,” tutur perajin telah berjualan selama 20 tahun tersebut.

 

Kerajinan kayu jati menghiasi etalase tokonya sudah mencapai ratusan macam bentuk. Semakin lama semakin berkembang. Ia mengaku, juga membuat pesanan sesuai bentuk permintaan pembeli. “Penjualannya setelah pandemi ini sudah baik sekali,” jelasnya. (*/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto
#bupati bojonegoro #kayu jati #anna mu’awanah #bok #bojonegoro