Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Merasa Lebih Sulit Lukis Huruf Dibandingkan Gambar

M. Yusuf Purwanto • Selasa, 15 Maret 2022 | 17:26 WIB
ADA CIRI KHAS: Heri Prasetyo menggunakan pelipit garis hijau sebagai salah satu ciri spanduk jualan pedagang dari Lamongan. (ISTIMEWA/RDR.LMG)
ADA CIRI KHAS: Heri Prasetyo menggunakan pelipit garis hijau sebagai salah satu ciri spanduk jualan pedagang dari Lamongan. (ISTIMEWA/RDR.LMG)

Dunia seni gambar melekat pada diri Heri Prasetyo. Pernah menggambar sketsa wajah di pasar malam, hingga menjadi  pelukis spanduk.



M Gamal Ayatullah, Radar Lamongan


 

WARGA Lamongan di perantauan lebih sering dikenal sebagai penjual pecel lele, seafood, dan makanan lainnya. Identitas warung pecel lele mereka tidak hanya berdasarkan tulisan kata Lamongan. Juga, desain spanduk yang dipasang.

 

Bagi pelukis spanduk pecel lele, mereka tahu betul bagaimana mengerjakan pesanan dari konsumennya. Salah satu pelukis itu, Heri Prasetyo, 47, warga Desa Sendangrejo, Kecamatan Ngimbang.

 

‘’Dulu masih duduk di bangku sekolah dasar, sudah hobi menggambar,’’ ujar bapak lima anak tersebut.

 

Melukis spanduk pecel lele dibutuhkan ketelatenan. Bukan hanya beberapa ikan yang harus dilukis. Jika pemesan juga jualan bebek atau ayam goreng, maka gambar hewan itu ikut dilukis. Selain itu, ada ciri khas yang harus disertakan Heri saat melukis spanduk pecel lele. Garis pelipit di spanduk dengan warna hijau.

 

Terkadang, Heri membutuhkan waktu sekitar sebulan untuk mengerjakan satu spanduk. Dia menjual jasanya dengan hitungan per meter.

 

‘’Kalau saya paling susah saat melakukan lukis pada huruf dibandingkan ikan atau lainnya,’’ tuturnya.

 

Heri dituntut jeli dalam melukis huruf. Perbandingan besar atau kecilnya font harus bisa ditata agar hasil lukisan spanduknya bagus dan menarik perhatian orang.

 

Selain itu, kerapian spanduk harus dijaga. Jangan sampai tinta sablon menimbulkan bercak noda di spanduk. ‘’Untuk pesanan, kebanyakan dari luar Jawa seperti Kalimantan, Sulawesi, Lombok untuk pecel lele,’’ ujarnya.

 

Meski suka menggambar sejak kecil, Heri tidak langsung fokus ke dunia spanduk. ‘’Tepat pada tahun 2008, baru berani menerima lukisan spanduk untuk pecel lele,’’ jelasnya.

 

Sebelumnya, dia lebih senang menggambar sketsa wajah. Heri mengingat saat remaja, banyak temannya yang mengatakan bahwa hasil sketsa wajahnya bagus. Dia kemudian membuka jasa lukis wajah. Saat itu, banyak pemesan sketsa wajah untuk hadiah ulang tahun.

 

Namun, pesanan tidak selamanya mengalir. Ketika orderan sepi, Heri harus jemput bola. Dia keliling di pasar malam agar ada yang mau dilukis di lokasi. Namun, lukisan sketsa wajah itu tidak langsung diselesaikan. Dia hanya ingin menarik pengunjung pasar agar ada yang mau pesan lagi. Sehingga, sebagian pengerjaan sketsa wajah dilakukan di rumah agar bisa lebih konsentrasi.

 

‘’Lukisan wajah menggunakan pensil dengan waktu kurang lebih sehari lamanya,’’ ujarnya.

 

Usaha ini juga tak langgeng. Heri akhirnya memilih lukis spanduk hingga saat ini. (*/yan) Editor : M. Yusuf Purwanto
#bupati yes #Pelukis Spanduk #bok #bupati lamongan #lamongan