Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Dua Tahun Pertemuan Ditunda karena Pandemi

M. Yusuf Purwanto • Rabu, 2 Maret 2022 | 20:34 WIB
POSE DULU: Personel barongsai Singo Drojat dan peralatan kostumnya. (Dokumen Pribadi For R.Lmg)
POSE DULU: Personel barongsai Singo Drojat dan peralatan kostumnya. (Dokumen Pribadi For R.Lmg)

Barongsai Singo Drojat, Kecamatan Paciran, berkiblat pada Khuan Loke Dragon and Lion Dance Association Malaysia. Rutin mengikuti pertemuan agar mengetahui perkembangan terkini dunia barongsai.



FIKRI ABDURRAHMAN, Radar Lamongan.


 

TARIAN yang dikawinkan dengan atraksi dan seni beladiri merupakan sebuah idiom dari barongsai. Akrobatik singa yang terbuat dari sarung, dikenali dengan iringan dari suara alat musik tambor, cengceng, dan kenong. Hanya mereka yang memiliki ketrampilan khusus yang dapat memainkan barongsai.

 

Biasanya, tarian asal Tiongkok itu bisa dijumpai menjelang perayaan imlek. Namun, barongsai juga sering ditampilkan pada momen – momen lainnya.

 

Seperti Barongsai Singo Drojat yang sering dipertunjukkan saat pembukaan acara-acara maupun penyambutan tamu-tamu yang berkunjung ke Ponpes Sunan Drajat Lamongan.

 

‘’Beliau (pengasuh Ponpes Sunan Drajat, KH Abdul Ghofur) pernah bilang ke saya, santri Sunan Drajat, harus seperti ini (mencontoh kreativitas dari barongsai, Red),'' kenang Abdul Fatah, pendiri Singo Drojat.

 

‘’Seketika itu beliau menyuruh kepala pondok dan staf-stafnya. Ini (barongsai, Red) harus dikembangkan, kalian harus menfasilitasi,’’ imbuh pengurus asrama ponpes itu.

 

Butuh persiapan dua bulan untuk mendirikan barongsai di ponpes. Ada sekitar 15 santri yang berinisiatif membantu Fatah. Bermodalkan Rp 500 ribu, mereka kemudian melakukan pertunjukkan barongsai di acara qirob santri dan haul akbar pesantren.

 

‘’Seorang santri itu harus multitalenta karena di masyarakat nanti yang dibutuhkan tidak hanya pinter mengaji. Tapi, bisa berbaur dengan orang banyak. Oleh karena itu, skill dan kemampuan di masyarakat yang dibutuhkan,’’ jelas pria kelahiran Bojonegoro itu.

 

Khuan Loke Dragon and Lion Dance Association di Malaysia, menjadi acuan Singo Drojat untuk pengembangan diri. Sejak 2018 sampai 2020, Singo Drojat rutin mengikuti pertemuan asosiasi untuk mengasah dan menguasai jurus-jurus barongsai.

 

Tahun lalu dan tahun ini, perkumpulan yang diadakan saat tahun baru imlek itu tidak digelar karena pandemi Covid-19. ‘’Kabarnya 2023 mulai diadakan kembali,’’ imbuhnya.

 

Pemain barongsai menggelar latihan di lapangan ponpes setiap Selasa dan Jumat sore. Ketua Komunitas Singo Drojat, Moh Arif Athallah, menjelaskan, selain memberikan pelatihan khusus kepada anggota, dia harus memikirkan regenerasi kepengurusannya. ‘’Saya lulus (SMK), masih ingin mengabdi sampai Malaysia,’’ harap remaja asal Kecamatan Palang, Tuban itu.

 

Sejak 2018, barongsai Singo Drojat resmi menjadi ekstrakurikuler di SMK Sunan Drajat Paciran. Ada lima kostum singa barongsai yang dimiliki. Salah satunya, hoksan yang identik dengan moncong, tanduk tidak lancip, dan ekor lebih kecil. Selain itu, ada kostum naga untuk tujuh dan sembilan personel. Juga kostum wawa (badut) untuk menghibur penonton. Sementara alat musiknya lima set cengceng, kenong, dan tambor.  (*-mg2/yan) Editor : M. Yusuf Purwanto
#bupati yes #bok #barongsai #bupati lamongan #lamongan