3 Poin Inti Sejarah Jalur Rel Kereta Api Bojonegoro-Tuban:
-
Tiga Jaringan Rel Kereta Api Terkoneksi: Konsesi proyek yang sebenarnya sudah disetujui sejak September 1914 ini mencakup tiga jalur krusial: Babat–Ngidon–Tuban–Jenu, Bojonegoro–Ponco–Ngawun–Jatirogo, serta jalur penghubung Ponco–Rengel–Ngidon yang menyatukan kedua rute utama tersebut.
-
Bantah Mitos Daerah Sepi: Pembangunan ini mematahkan stigma bahwa perdesaan Keresidenan Rembang itu sunyi. Faktanya, Distrik Rengel saat itu tercatat jauh lebih padat desanya dibandingkan kawasan Priangan seperti Tasikmalaya, sehingga potensi transportasi penumpang dinilai sangat menguntungkan.
-
Skandal 'Kebodohan' Proyek Masa Lalu: Pembangunan jalur kereta api ini diwarnai kritik pedas terhadap "kebodohan" pemerintah kolonial sebelumnya (di era Menteri Pierson) yang sempat menghentikan proyek irigasi Solo Valley dan membongkar jalur kereta api negara, yang berujung pada kerugian jutaan gulden.
RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pemerintah Hindia Belanda melalui instruksi langsung Gubernur Jenderal secara resmi memerintahkan pembebasan paksa (onteigening) sejumlah lahan di Distrik Rengel, Kabupaten Tuban, guna mengebut pembangunan mega-proyek jalur kereta api rute Babat–Ngidon–Tuban–Jenu.
Langkah agresif yang direkam pada pertengahan 1918 ini menegaskan bahwa realisasi jaringan transportasi yang akan membelah wilayah Tuban dan Bojonegoro sudah di depan mata.
Proyek raksasa ini digarap untuk memaksimalkan potensi wilayah lembah Sungai Bengawan Solo yang ternyata sangat padat penduduk, sekaligus menyatukan urat nadi perdagangan dari Surabaya hingga Rembang.
Bagi kamu yang kerap melintasi rute Bojonegoro, Tuban, hingga Babat (Lamongan), mungkin kamu tidak menyadari bahwa jalanan yang kamu lewati saat ini dulunya adalah poros transportasi paling ambisius di era Hindia Belanda.
Rekam jejak sejarah ini tersimpan rapi dalam lembaran arsip surat kabar kolonial Bataviaasch nieuwsblad terbitan 8 Juni 1918, yang kini bisa kamu baca langsung melalui pangkalan data sejarah Belanda di delpher.nl.
Baca Juga: Pencurian Rel Kereta Api di Bojonegoro Mengancam Keselamatan Penumpang
Koran tersebut melaporkan bagaimana kawasan Babat saat itu menjelma menjadi pusat perdagangan paling sibuk di perbatasan Surabaya–Rembang. Babat menjadi titik awal atau stasiun penghubung (terminus) dari jalur kereta api negara jurusan Jombang–Babat, serta jalur trem Gundih–Surabaya.
Membelah Solo Valley yang Menantang
Jangan bayangkan jalur kereta api ini dibangun di atas tanah yang mulus rata. Rel yang membelah kawasan Solo Valley (Bengawan Jero) ini harus meliuk melintasi wilayah perbukitan kapur selatan (tempat berdirinya Gunung Pandan) hingga menembus bukit kapur utara di kawasan Rembang.
Khusus untuk rute Bojonegoro–Jatirogo, jalurnya didesain menyusuri lembah Kali Kening yang bermuara langsung ke Sungai Bengawan Solo di Bojonegoro.
Para ahli ekonomi kolonial saat itu sangat optimistis dengan keuntungan (rentabiliteit) dari proyek transportasi massal ini. Selain karena kepadatan penduduknya yang luar biasa, potensi ekonomi kawasan tersebut akan terus meledak berkat rencana pengerjaan proyek irigasi dan sistem drainase raksasa di hilir Sungai Bengawan Solo (sesuai janji pemerintah dalam Lembaran Negara/Staatsblad Tahun 1909 No. 224).
Kritik Keras untuk Pemerintah
Bagian paling menarik dari artikel kolonial ini adalah kritikan tajam dari penulisnya terhadap blunder fatal pemerintah Belanda di masa lalu. Proyek irigasi yang seharusnya sudah selesai 20 tahun sebelumnya, terpaksa mangkrak karena dihentikan oleh Menteri N.G. Pierson.
Bahkan, penulis tersebut dengan lantang menyebut adanya "kebodohan kedua", yakni ketika jaringan trem negara di Lembah Solo yang sebelumnya sudah ada justru dibongkar secara paksa! Padahal, jika jalur tersebut dipertahankan, Belanda tidak hanya bisa memajukan wilayah tersebut lebih cepat, tetapi juga menyelamatkan uang jutaan gulden yang terbuang sia-sia.
Baca Juga: Mitos atau Fakta? Mesin Kendaraan Bisa Mati Sendiri Saat Berada di Tengah Rel Kereta Api
Informasi Tambahan: Jalur kereta api Babat-Tuban dan Bojonegoro-Jatirogo pada masa itu dioperasikan oleh perusahaan kereta api swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) dan Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS). Saat ini, sebagian besar rel bersejarah tersebut sudah nonaktif dan terkubur aspal atau pemukiman warga. Untuk melihat peta sejarah perkembangan jalur kereta dan trem di Pulau Jawa, kamu bisa mengunjungi portal pelestarian sejarah PT KAI di KAI Heritage (heritage.kai.id). (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko