RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kasus kebakaran melonjak tajam per September lalu. Berdasar data dinas pemadaman dan penyelamatan (damkarmat), tercatat sebanyak 575 kejadian.
Tertinggi bersumber dari kebakaran lahan, pekarangan, sampah, jerami, dan rumpun bambu. Yakni, mencapai 350 kejadian.
Terbanyak selanjutnya dari kebakaran hutan yang mencapai 51 kejadian dan permukiman atau rumah sejumlah 40 kejadian. Angka tersebut mengalami peningkatan dibanding tahun lalu. Total kebakaran per September 2025 sebanyak 243 kejadian. Terdiri dari kebakaran lahan, pekarangan, sampah, jerami, dan rumpun bambu sejumlah 58 kejadian hingga lahan hutan lima kejadian.
Kepala Bidang (Kabid) Damkarmat Bojonegoro Ahmad Agus Salim menjelaskan, kebakaran terjadi di nonbangunan dimasukkan dalam kategori lahan, pekarangan, sampah, jerami, dan rumpun bambu. Bisa disebut kebakaran tempat terbuka. Sementara, lanjut dia, kebakaran hutan atau lahan perhutani dimasukkan dalam kategori tersendiri.
Baca Juga: Terjadi 338 Kasus Kebakaran di Bojonegoro, Sejak Januari hingga Agustus 2026
"Kalau lahan perhutani, sesuai informasi dari penjaga hutan sebagian besar disebabkan dibakar oleh orang tidak bertanggung jawab," kata Agus, sapaannya.
Menurut dia, rerata kebakaran tersebut sengaja dilakukan untuk membersihkan sampah. Mumpung belum memasuki musim penghujan. Sementara itu, lanjut dia, mengingat cuaca musim kemarau tahun ini memengaruhi kenaikan jumlah kebakaran. Sebab, titik kebakaran berpotensi meluas ke area terbuka. "Tentu saja sangat memengaruhi, karena pembakaran sisa panen, sampah, daun, bambu kering membuat api sangat mudah menjalan ke area lebih luas," jelas dia.
Sehingga, pihaknya mengimbau, masyarakat jangan membakar sampah sisa hasil pertanian dan daun kering serta rumpun bambu di manapun berada. "Karena musim kemarau saat ini sifatnya benar-benar kering sehingga api akan mudah membesar dan pasti sulit ditanggulangi," ujar Agus. (yna/msu)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah