RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Penutupan sementara operasional satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) selama libur sekolah cukup berdampak bagi mitra, karena pendapatan berkurang, berpotensi terjadi kerugian.
Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Bojonegoro Tommy Mandala Putra mengatakan, saat libur sekolah dapur SPPG disebut memanfaatkan momentum untuk perbaikan.
"Saat libur biasanya dimanfaatkan untuk perbaikan dapur," kata Tommy.
Selama liburan sekolah ini, BGN sedang menyiapkan penilaian dapur berdasarkan kategori A, B, hingga C.
Hasil penilaian nantinya berpengaruh terhadap standar fasilitas dan layanan yang harus dipenuhi masing-masing dapur.
Namun di sisi lain, kebijakan penghentian sementara operasional memunculkan konsekuensi ekonomi bagi pelaksana di tingkat lapangan.
Relawan dapur bekerja dengan sistem upah harian tidak menerima pembayaran ketika kegiatan memasak dan distribusi makanan dihentikan.
"Kondisi ini cukup dirasakan relawan karena pendapatan mereka bergantung pada hari kerja. Saat dapur tidak beroperasi, otomatis tidak ada penghasilan yang diterima," kata salah satu mitra yang enggan disebut namanya.
Dia mengklaim, hal tersebut juga berdampak bagi UMKM pemasok. Sebab, biaya operasional otomatis berhenti dikucurkan. Yakni, Rp 3.000 per porsi maupun Rp 2.000 per porsi untuk insentif.
Baca Juga: Izin 42 Dari Total 147 Dapur SPPG Bojonegoro Belum Lengkap, Disdik Akui Tak Diajak Koordinasi
"Porsi kecil balita hingga kelas 3 SD/MI itu anggarannya Rp 8.000 per porsi, kalau porsi besar untuk kelas 4 SD/MI sampai ibu hamil dan menyusui Rp 12 ribu per porsi. Kalau jadi Rp 15 ribu itu dari operasional Rp 3.000 per porsi," jelas dia.
Meski sudah menerima insentif Rp 2.000 per porsi, pihaknya mengaku, sebagai mitra tetap terdampak dari sisi pendapatan dengan penghentian operasional selama libur sekolah.
"Insentif mitra yang sudah investasi libur juga tidak terbayar. Pasti mengalami kerugian," klaim dia. (yna/msu)
Editor : Bhagas Dani Purwoko