RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Harga pakan ayam kian melambung. Keluarga penerima manfaat (KPM) program gerakan beternak ayam petelur mandiri (gayatri) mengeluh.
Untung semakin tipis, gayatri tak bisa menopang ekonomi. ‘’Iya, naik. Dulu Rp 375 ribu per karung sekarang jadi Rp 380 ribu per karung,” ujar Dedik salah satu KPM asal Kecamatan Margomulyo, kemarin (17/6).
Dia mengaku, hanya tiga kali dapat membeli harga pakan dengan Rp 375 ribu per karung tersebut. Selanjutnya Rp 380 ribu per karung sebanyak sembilan kali. Menurutnya, satu karung untuk sembilan hari.
‘’Kalau diitung sebulan itu dapat Rp 300 ribu belum terpotong untuk beli obat. Tapi, obat ini tidak menentu tergantung pemakaian. Kadang diberi tiga kali seminggu tergantung ayamnya. Kalau obat kotoran satu botol dua bulan,” keluh dia.
Baca Juga: Bupati Bojonegoro Medhayoh di Gayam, Tinjau Pertanian hingga Program Gayatri
Dedik mengakui, tidak bisa hanya mengandalkan hasil telur karena untung mepet. Sehingga, tetap bekerja serabutan. Mengandalkan orang yang membutuhkan tenaga.
Di sisi lain, kendala penjualan juga jadi persoalan. ‘’Kendalanya kadang itu harga anjlok,” keluhnya.
KPM lainnya menambahkan, harga pakan ayam terus naik. Satu karung merek Np B83A sebelumnya seharga Rp 350 ribu sekarang menjadi Rp 375 ribu.
Padahal, minggu sebelumnya masih Rp 365 ribu per karung. ‘’Minimal bisa sampai sembilan hari dan maksimal sepuluh hari. Untungnya tipis,” ujar dia.
Namun, Diyah KPM lainnya dari Kecamatan Margomulyo mengaku, harga didapatnya kini termasuk turun. Sebelumnya Rp Rp 385 ribu per karung menjadi Rp 380 ribu per karung. ‘’Sementara belum ada kendala,” ngakunya.
Dikonfirmasi terpisah, Sekretaris Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro Elfia Nuraini mengatakan, naiknya harga pakan seiring dengan dollar.
Sehingga, ada beberapa hal dilakukan. Di antaranya membuat pakan alternatif dari bahan lokal agar tidak 100 persen tergantung pakan pabrikan.
‘’Ini sudah kami bekali saat bimtek dulu dengan cara mencampur pakan dengan komposisi jagung 50 persen, desak 15 persen, dan konsentrat 35 persen. Sehingga dengan begitu akan menghasilkan pakan relatif lebih murah,” katanya.
Elfia melanjutkan, langkah lainnya yakni memfasilitasi kelompok atau koperasi peternak untuk mendapatkan jagung stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) dari kementerian pertanian (kementan) sehingga harga jagung maksimal Rp 5.500 per kilogram (kg).
‘’Dari sisi harga telor yang jatuh, Alhamdulillah sudah ada SE (surat edaran) bupati dengan minimal harga Rp 25 ribu di tingkat peternak gayatri untuk ASN.
Tetutama sudah jalan dan untuk SPPG juga lagi bertahap, sehingga masih ada selisih antara biaya pakan dan hasil telor,” beber dia.
Selanjutnya, tambah dia, memfasilitasi dengan kelompok atau koperasi yang sudah menghasilkan self mixing atau campuran sendiri sehingga pakan relatif lebih murah.
Baca Juga: KPM Gayatri di Bojonegoro Keberatan Pakan Pabrikan, Ternak Bantuan Rawan Dijual
Dan, untuk ketahanan tubuh serta meningkatkan efisiensi pakan dengan menambah sejenis empon-empon atau rempah dalam minuman ayam.
‘’Poin yang memfasilitasi kelompok atau koperasi adalah kelompok binaan kami yang sudah mandiri dari awal kita jadikan narasumber sehingga bisa sebagai contoh langsung dan sudah kerja sama dengan BUMDes maupun KPM langsung,” kata dia. (yna/msu)
Editor : Bhagas Dani Purwoko