RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Desa wisata terus bergeliat. Namun, perlu kreativitias dan inovasi untuk menjaga keberlangsungannya. Sebab, rerata hanya ramai di awal pembukaan.
Pemerintah kabupaten (pemkab) harus lebih memperhatikan. Sebab, tak sedikit wisata mangkrak tengah jalan. Seperti dialami sejumlah wisata desa di Kecamatan Balen.
Bahkan, rerata wisata desa yang dikelola badan usaha milik desa (BUMDes), rerata belum mampu menyumbang pendapatan asli desa (PAD).
Baca Juga: Sehari Jadi Mahasiswa, 120 Pelajar SMAN 1 Balen Geruduk Unigoro
Camat Balen Andriyanto mengungkapan, wilayahnya memiliki sejumlah wisata desa yang layak dikunjungi.
Di antaranya wisata Taman Pinggir Gawan (TPG) di Desa Pilanggede; wisata budidaya anggur di Desa Margomulyo; wisata Kenep Smart Village (Kensvil) Desa Kenep; dan wisata Embong Babo di Desa Sidobandung.
Menurut Andriyanto, sejumlah wisata tersebut dikelola oleh badan usaha milik desa (BUMDes). Bahkan, lanjut dia, pascalebaran lalu diadakan pagelaran-pagelaran di Embong Babo.
"Rencana dulu Embong Babo mau dibantu dari kementerian dalam bentuk rumah-rumah kecil, tapi belum terealisasi," ujarnya.
Dia menambahkan, wisata TPG di Desa Pilanggede sedang tahap pembenahan. Rencana terintegrasi dengan kereta kelinci atau tayo. "Mungkin bisa terintegrasi dengan tayo, tapi pengunjungnya ya belum ada," kata Andriyanto.
Baca Juga: Bupati Setyo Wahono: Pengembangan Wisata di Bojonegoro Harus Menggandeng Swasta
Sementara itu, Giri Foundation berharap ada kebijakan khusus dari kepala daerah khusus untuk semua warga yang mendapatkan pendapatkan gaji dari APBD, untuk liburan di dalam kabupaten.
Selain itu, perlu intervensi dari pemkab untuk memfasilitasi pelaku wisata dengan lembaga pendidikan.
Baca Juga: Kecamatan Dander Kaya Potensi Wisata Alam, Mulai Mata Air Hingga Goa
‘’Karena pantauan kami di lapangan, wisata desa yang rerata dibiayai dari dana desa (DD) sekarang mangkrak,’’ kata Ketua Giri Fiundation Rian Adi Kurniawan. (yna/msu)
Editor : Bhagas Dani Purwoko