RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Bojonegoro terkenal dengan sebutan Kota Minyak dan Gas (Migas). Layaknya predikat itu, kabupaten ujung barat Provinsi Jawa Timur ini menyimpan segudang sumber daya alam (SDA).
Di antaranya Geosite Kedung Lantung, yang juga menjadi salah satu lokasi penilaian Unesco Global Geopark (UGGp).
Rembesan minyak bumi ini kembali menjadi sorotan dalam beberapa waktu terakhir. Sebab, situs geologi berlokasi di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras ini direncanakan mulai revitalisasi.
‘’Geosite Kedung Lantung ada di desa kami. Tepatnya, di Dusun Nglantung,” kata Kaur Tata Usaha (TU) Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras Dina Wahyu, Jumat (6/2).
Menurut Dina, situs itu sudah lama. Rembesan minyak bumi di celah-celah batuan kapur secara alami. Berada di kawasan Kedung Asin. Sebelum listrik masuk, masyarakat memanfaatkannya sebagai bahan bakar lampu teplok atau ublik. ‘’Iya, ini sudah ada sejak lama,” imbuhnya.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universsitas Bojonegoro (Unigoro) Laily Agustina menjelaskan, sistem petrolium di Bojonegoro terdapat beberapa formasi.
Di antaranya antiklin atau lipatan ke atas yang diwakili Wonocolo dan sinklin atau lipatan ke bawah diwakili Kedung lantung.
‘’Biasanya di kedua dormasi tersebut fenomena minyak bumi tidak bisa dilihat secara langsung secara kasat mata. Namun, ajaibnya di Geosite Kedung Lantung kita bisa menyaksikan langsung rembesan minyak bumi yang muncul ke permukaan air sungai,” paparnya.
Zaman dulu, lanjut dia, di musim kemarau saat sungai kering minyak berwarna hitam disebut lanntung merembes ke permukaan dan dimafaatkan masyarakat sekitar untuk isian lampu teplok.
Dia merencanakan sejumlah program. Termasuk infrastruktur dan pendampingan kelompok sadar wisata (pokdarwis). ‘’Tentu harus kami komunikasikan dulu dengan pihak terkait. Agar sesuai dan tepat sasaran. Sehingga bisa mendapat penilaian positif untuk UGGp di Juli besok,” harapnya. (yna/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana