Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Peserta Membludak, Olimpiade Matematika di Bojonegoro Berakhir Ricuh: Isak Tangis Iringi Kepanikan Siswa dan Orang Tua

Dewi Safitri • Senin, 8 Desember 2025 | 14:00 WIB
PANIK: Para orang tua dan anak yang ikut Olimpiade Matematika panik ketika berdesak-desakan di dalam Gedung Serbaguna, kemarin (7/12).
PANIK: Para orang tua dan anak yang ikut Olimpiade Matematika panik ketika berdesak-desakan di dalam Gedung Serbaguna, kemarin (7/12).

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Suasana yang semestinya penuh antusiasme, seketika berubah menjadi kepanikan massal. Tangis para siswa bersahutan dengan orang tua yang berdesakan mencari satu sama lain di Gedung Serbaguna, kemarin (7/12).

Olimpiade matematika itu membludak, diikuti sekitar 8.000 peserta dari SD/MI se-Bojonegoro berakhir ricuh dan meninggalkan trauma. Pihak penyelenggara tidak mampu mengontrol ribuan peserta tersebut.

Nafidatul Hima, salah satu wali murid menyampaikan, lomba dimulai pukul 07.00 WIB dan peserta harus datang 30 menit sebelum acara. Mulai masuk, sudah terlihat hal-hal yang tidak mengenakkan.

Seperti, penyerahan medali di pintu masuk yang membuat peserta dorong-dorongan. Dan, tulisan di medali bukan nama lomba, melainkan nama penyelenggara. Hal tersebut aneh.

‘’Pukul 07.00 WIB lebih baru dimulai. Sekitar pukul 08.00 WIB sudah selesai. Sebelum jam 09.00 WIB, orang-orang sudah berdiri, bilang sudah selesai. Tapi, belum keluar dan ternyata sudah pengumuman pemenang. Kan aneh, pesertanya ribuan, tiba-tiba sudah ada pemenangnya,” ceritanya.

Menurut Hima, sekitar pukul 08.30 WIB, peserta sudah mulai keluar dan tidak ada informasi dari penyelenggara terkait jalan keluar. Sehingga, membuat kepanikan antara siswa dan orang tua yang saling mencari. Bahkan, beberapa orang tua sampai lompat melalui jendela untuk mencari anaknya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

Shared post on

Iframe code generator

’’Anak menangis, orang tua menangis. Anak keluar, orang tua mencari di dalam, panik, tidak ketemu. Mirisnya, di saat panik, panitia tidak mengumumkan melalui speaker agar kondisi lebih tenang. Orang tua banyak yang protes. Sampai ada anak di sesi satu belum keluar hingga siang,” terangnya.

Koordinator Aliansi Peduli Perempuan dan Anak (APPA) Bojonegoro tersebut melanjutkan, keparahan kondisi semakin menjadi sekitar pukul 09.30 WIB, ketika peserta sesi dua di mana dijadwalkan pukul 10.00 WIB sudah mulai berdatangan. Membuat kondisi semakin tidak kondusif dan berdesakan.

‘’Infonya, terdapat sekitar 8.000 peserta. Tapi, polisi yang berjaga juga hanya sedikit. Mirisnya, banyak anak yang trauma. Menangis dan bilang ke orang tua kalau tidak mau ke sana lagi. Orang tua juga menangis, lemas. Menurutku, itu sudah pidana,” bebernya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Bojonegoro, Anwar Mukhtadlo menyampaikan, tidak ada koordinasi maupun komunikasi dengan Dinas Pendidikan Bojonegoro terkait pelaksanaan Olimpiade Matematika tingkat SD ini.

‘’Tidak ada koordinasi dengan Dinas Pendidikan,” ujarnya kemarin (7/12). Terkait kericuhan yang terjadi, pihak penyelenggara, dalam hal ini adalah Saryta Management dari Tuban telah menjalani pemeriksaan di Polsek Kota Bojonegoro.

‘’Tadi infonya, (pihak penyelenggara) sudah dimintai keterangan di Polsek Kota,’’ tambahnya.

Agar kejadian serupa tidak terulang kembali, Tadlo sapaannya mengimbau, agar pihak pemyelenggara maupun sekolah-sekolah yang akan mengikuti olimpiade agar melakukan koordinasi terlebih dulu dengan Dinas Pendidikan Bojonegoro.

‘’Mohon penyelenggara dan sekolah yang akan mengikuti olimpiade atau lomba agar berkoordinasi dulu dengan bidang Pendidikan Dasar (Dikdas) pada Dinas Pendidikan,’’ pungkasnya. (ewi/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#APPA #Gedung Serbaguna #olimpiade matematika #Perempuan #Pendidikan #Dinas Pendidikan #Lomba #olimpiade #medali #anak #Siswa #bojonegoro #Penyelenggara #orang tua #Sekolah #dinas pendidikan bojonegoro #peserta