Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Banyak Pemuda Bojonegoro Enggan Jadi Petani: Modal Besar, Hasil Tidak Menentu

Dhani Wahyu Alfiansyah • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 14:10 WIB

 

PANEN RAYA: Petani di wilayah Desa Bakalan, Kecamatan Kapas sedang memanen padi menggunakan alat harvester.
PANEN RAYA: Petani di wilayah Desa Bakalan, Kecamatan Kapas sedang memanen padi menggunakan alat harvester.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Regenerasi petani di Bojonegoro menghadapi tantangan besar.

Di tangan generasi muda, kini semakin enggan menggarap lahan pertanian. Baik sawah maupun lahan hutan yang dimanfaatkan sebagai pertanian.

Besarnya modal untuk pembelian bibit, pupuk, obat-obatan, hingga hasil yang tidak menentu. Menjadi alasan muda-mudi enggan bertani.

Berdasar hasil Sensus Pertanian pada 2013 mencatat 366.484 petani di Bojonegoro. Sementara, sensus pertanian 2023 kemarin merekam 333.951 petani.

Terdapat selisih sebanyak 32.533 petani dalam jangka waktu sepuluh tahun rata-rata terdapat penurunan jumlah petani sebanyak 3.200 ribu lebih petani per tahun.

’’Sementara pada tahun ini, DKPP Bojonegoro sendiri telah mencatat 251 ribu petani di Bojonegoro, sesuai data dari kelompok tani,” ungkap Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Manusia (SDM) dan Pemberdayaan DKPP Kabupaten Bojonegoro Zainul Ma'arif.

Siti generasi milenial asal Kecamatan Dander mengatakan, tidak ingin menjadi petani. Meskipun ia lahir dan besar di keluarga petani.

Bapak dan ibunya merupakan seorang petani, penggarap sawah dan lahan hutan di daerahnya.

Namun, ia dan suami memutuskan untuk tidak melanjutkan untuk menjadi petani. ’’Tidak ingin menjadi petani. Sekarang fokus menjadi ibu rumah tangga dan berdagang kecil-kecilan di rumah. Sedangkan suami, merantau di luar kota,” katanya.

Menurutnya, menjadi petani tidaklah mudah. Seperti sambatan yang kerap di dengar dari orang tua maupun tetangga sekelilingnya.

Di mana membutuhkan modal yang besar, untuk pembelian bibit, pupuk, obat-obatan atau pestisida, hingga tenaga buruh yang sehari kini menjadi Rp 100.000.

Selain itu, hasil panen juga tidak menentu. Selain harga yang terkadang anjlok saat musim panen, faktor alam yang tidak mendukung juga mempengaruhi hasil panen.

’’Modalnya besar, hasilnya tidak pasti. Kadang gagal panen karena terserang hama hingga faktor alam. Terkadang juga, harga anjlok saat musim panen. Jadi, memilih yang pasti-pasti saja,’’ bebernya.

Terpisah, pemuda gen z wilayah selatan Bojonegoro mengatakan, sederet alasan tidak ingin menjadi petani.

Di antaranya, permasalahan pupuk yang terjadi dan disaksikan sendiri. Yakni, pembagian pupuk subsidi yang kurang transparan.

Tidak ada keterbukaan terkait jatah yang diberikan untuk petani dan berlandaskan apa. ’’Bahkan sudah mengantre lama, tapi tetap tidak mendapatkan pupuk,’’ kisahnya menceritakan pengalaman pribadi.

Selain itu, lanjutnya, harga panen yang kurang stabil juga menjadi alasan. Saat panen, terkadang harga malah turun, jauh di bawah harga pasar.

Padahal, modal awal sudah sangat banyak. Mulai dari bibit hingga pemupukan. ’’Belum lagi tenaga yang diperlukan untuk merawat sawah, juga tidak sedikit.

Itu pun masih ada kemungkinan gagal panen karena cuaca hingga hama,’’ terang putra seorang petani tersebut.

Laki-laki yang enggan disebutkan namanya tersebut menambahkan, di wilayahnya, yakni Bojonegoro bagian selatan juga kurang saluran irigasi. Sedangkan, hutan yang semakin gundul membuat air serapan juga semakin minim. Hal tersebut juga menjadi kendala dalam dunia pertanian di daerahnya.

’’Jika dulu, saat kemarau ada beberapa sumber air alami atau sendang yang bisa diandalkan untuk mengambil air, meski lokasinya cukup jauh.

Namun, kini jumlah sendang semakin berkurang. Kalau pun ada, airnya tidak sebanyak dulu,’’ pungkas alumni S1 Fakultas Sains dan Teknologi di salah satu perguruan tinggi di Surabaya tersebut. (ewi/dan/bgs)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#dkpp #pemuda #Pertanian #Ketahanan Pangan #Sensus pertanian #generasi milenial #Bertani #Gen Z