RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Asosiasi Kepada Desa (AKD) Bojonegoro melebur menjadi Persaudaraan Kepala Desa Indonesia (PKDI) melalui pengukuhan pengurus pada Sabtu (27/9).
Dipastikan 90 persen anggota AKD menjadi bagian dari PKDI. Ketua dan sekretaris dijabat Sudawam dan Edy Sunarto. ‘’Alhamdulillah PKDI Bojonegoro sudah dikukuhkan,” kata Sudawam saat diwawancarai pascapengukuhan di Pendapa Malowopati, Sabtu.
Dia mengatakan, masa kepemimpinan PKDI berlangsung lima tahun ke depan. Akan melakukan program prioritas sesuai pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten.
‘’Untuk mewujudkan desa sejahtera,” tandasnya. Dalam waktu dekat, lanjut dia, bakal mengadakan musyawarah kembali membahas langkah prioritas jangka pendek, menengah, dan panjang.
Sementara itu, saat disinggung terkait perubahan AKD menjadi PKDI, merupakan hal berbeda. Namun, menyatu, meluruh, dan melebur menjadi PKDI.
‘’Ini beda, tapi juga sekarang menyatu menjadi PKDI. Bisa dikatakan melebur. Mungkin nanti kami cek kembali karena ada yang belum terdaftar. Tapi, sudah 90 persen lebih (sudah terdaftar),” beber pria menjabat Kades Pelem, Kecamatan Purwosari itu.
Terpisah, Kades Plesungan, Kecamatan Kapas Moh. Choiri mengaku sebelumnya tidak mengetahui dasar peleburan AKD menjadi PKDI.
Juga, tidak mengetahui anggaran dasar dan anggaran rumah tangganya atau AD/ART. ‘’Bagaimana ya, saya juga tidak tahu ada PKDI. Tiba-tiba AKD pengurusnya PKDI. AD/ART juga tidak tahu,” ujarnya.
Dia menambahkan, AKD merupakan asosiasi profesi yang dijabat kades definitif. Sedangkan, organisasi pemerintah desa (pemdes) juga memiliki banyak perkumpulan.
Misal Perkumpulan Aparatur Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Papdesi) serta Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Desa (Apdesi).
‘’Tidak tahu arahnya bagaimana, orangnya ya itu-itu saja. Kalau saya maunya orang baru supaya banyak warna. Bukan langsung diubah, sama saja tidak ada warna kalau gitu,’’ ujarnya.
Dia menambahkan, tidak ada sosialisasi sebelumnya secara umum untuk perubahan atau peleburan AKD ke PKDI. Menurutnya, yang rapat hanya pengurus dan ada pembahasan melalui grup WhatsApp.
‘’Kemarin yang rapat ya pengurus saja. Orang-orang ada yang sepakat biar tidak pecah ya sudah ikut saja. Kalau mau tetap AKD ya monggo (silakan),’’ kata pria pernah menjabat Ketua AKD Bojonegoro itu. (yna/msu)
Editor : Bhagas Dani Purwoko