RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Motif Obor Sewu tidak sekadar bentuk seni atau ornamen tradisional. Lebih dari itu, motif ini memiliki makna mendalam dengan nilai-nilai luhur yang melekat di dalamnya.
Kepala Bagian (Kabag) Organisasi Kabupaten Bojonegoro Dyah Enggar Mukti mengatakan, motif Obor Sewu melambangkan pepadang atau penerang hati dalam menjalani dinamika kehidupan.
Menjadi kontrol perilaku dan sikap, baik dalam bertutur maupun perbuatan. Kerukunan yang dibangun dari konstruksi nilai kejujuran Samin dan menerima dengan ikhlas untuk mencapai tujuan hidup mulia.
Obor melambangkan cahaya pencerahan dan semangat juang. Obor juga dapat dimaknai sebagai simbol penerang jalan hidup. Ajaran Samin untuk hidup selaras dengan alam, menjaga hubungan baik dengan sesama, dan hidup dalam kejujuran serta ketenangan batin. Sedangkan, seribu (sewu) mencerminkan kekuatan kolektif.
“Inilah kenapa memilih motif Obor Sewu karena motif ini memiliki nilai dan makna dalam. Untuk menjadi pencerah, berjuang, semangat, dan kekuatan kolektif,” terangnya.
Penerus Ajaran Samin atau Sedulur Sikep Bambang Sutrisno menyampaikan, desain Obor Sewu dicetuskan pertama kali oleh Dosen ISI Yogyakarta Sugeng Wardoyo. Saat itu, Sugeng, melakukan penelitian terhadap adat, tradisi, dan sejarah Samin yang masih lestari hingga saat ini di Kecamatan Margomulyo.
Melihat dari sejarah Mbah Samin Surosentiko, ketika mengumpulkan anak buah saat penjajahan Belanda. Kala itu, para anak buah dikumpulkan di tanah lapang ketika malam hari dengan lampu penerangan berupa obor dengan jumlah banyak. Kemudian, dikenal dengan nama Obor Sewu.
‘’Makanya Pak Sugeng menamakan motif itu dengan Obor Sewu agar mengenang jasa Mbah Surosentiko,’’ terang anak bungsu dari tujuh bersaudara keluarga Mbah Surosentiko tersebut.
Filosofi dari Obor Sewu tersebut sesuai dengan namanya. Obor yang merupakan lampu penerangan. Dan, Sewu artinya seribu atau berarti banyak. Dengan Obor Sewu, sesuai pitutur dari Mbah Surosentiko, dapat menjadi penerang bagi generasi penerusnya. Terutama, di tengah kegelapan.
‘’Inginnya, pituture Mbah Surosentiko, itu bisa menjadi penerang bagi generasi penerusnya,’’ ujarnya. (ewi/zim)
Editor : M. Nurkhozim