RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro pada Jumat (15/3) menunjukkan, sepanjang tahun 2013 hingga 2023, pada sensus pertanian yang dilakukan sepuluh tahun sekali tersebut, terjadi penurunan angka jumlah petani di Kota Ledre. Meski jumlah petani secara kumulatif masih banyak, namun jumlah penurunan terjadi sangat signifikan.
“Untuk hasil Usaha Pertanian Perorangan (UTP) sendiri, angkanya pada tahun 2023 lebih sedikit dibanding 2013. Salah satu faktor turunnya jumlah UTP disebabkan oleh berkurangnya lahan pertanian yang ada,” jelas Kepala BPS Bojonegoro, Kiki Ferdiana.
Hasil sensus pertanian pada tahun 2013 mencatat 366.484 petani. Sementara sensus 2023 kemarin merekam 333.951 petani. Terdapat selisih sebanyak 32.533 petani dalam jangka waktu sepuluh tahun rata-rata terdapat penurunan jumlah petani sebanyak 3,2 ribu lebih petani per tahun.
Sementara pada tahun ini, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro sendiri telah mencatat 191.588 petani yang sudah bergabung dalam sistem Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) mereka. Tentu, jumlah ini masih dapat bertambah dengan bertambahnya petani yang mendaftar ke sistem RDKK.
“Ada update setiap minggunya,” jelas Kepala Bidang SDM dan Pembiayaan DKPP Bojonegoro, Zaenul Ma’arif.
“Jumlah petani di RDKK sendiri biasanya fluktuatif karena berbagai faktor. Misal ada petani yang dulu menggarap lahan, namun tahun berikutnya tidak menggarap. Atau bisa juga karena petani tidak mendaftar bantuan pupuk subsidi, dan jumlah bantuan tersebut setiap tahunnya juga berbeda,” lanjut Zaenul.
Selain itu, lanjut Arif, terjadinya alih fungsi lahan tani juga berpengaruh pada menurunnya jumlah petani.
“Namun ada juga para petani yang kemudian sepakat memecah lahan tani untuk beberapa petani. Melalui ahli waris atau pihak serupa,” ungkap Zaenul.
Data dari BPS Bojonegoro pada 2023 menyebutkan, dari 333.951 petani yang disensus, 211.091 petani berasal dari generasi milenial. Yakni kisaran usia 19 hingga 39 tahun pada tahun tersebut.
Pandangan DKPP Bojonegoro, selain berkurangnya lahan pertanian akibat alih fungsi, terdapat faktor lain. Yakni ketidakpastian dalam bertani menyebabkan pekerjaan tani masih belum banyak digemari oleh generasi muda.
“Terkadang ada petani muda yang dulunya bertani. Namun, kemudian mereka ini beralih pekerjaan dan tidak bertani lagi. Misal menjadi buruh pabrik. Salah satu penyebab lainnya adalah ketidakpastian dalam usaha,” ujar Zaenul.
Ketidakpastian ini yang harus dihadapi tidak hanya persoalan harga hasil panen saja. Meskipun telah ada peraturan yang mematok harga jual, namun juga saat proses selama musim tanam produk tani.
“Bertani butuh ilmu dan jam terbang, jika si petani sudah kenyang pengalaman dan ilmu resiko gagal panen bisa minim,” jelas Zaenul.
Tentu, kejadian gagal panen juga termasuk salah satu dalam ketidakpastian tersebut.
“Terutama ketidakpastian pasca gagal panen. Sebenarnya di UU Perlindungan Pertanian (UU Nomer 19 Tahun 2013) sudah cukup jelas. Pemerintah memiliki kewajiban memberikan asuransi gagal panen (AUTP) kepada petani melalui pemerintah daerah. Serupa dengan program asuransi negara seperti BJPS,” lanjut Zaenul.
“Misal kita bandingkan dengan menjadi kontraktor atau membuka usaha, resiko untung-ruginya tergolong minim. Dalam pertanian, kalau seluruh petani ditanggung asuransi dari pemerintah saat tanam maupun gagal panen, sehingga mereka dapat menanam lagi. Saya yakin jika ini berjalan, banyak anak muda yang akan tertarik bertani,” lanjut Zaenul.
Namun dalam prakteknya saat ini, asuransi petani dari pemerintah masih bersifat parsial.
“Kemudian saat ini asuransi dipercayakan oleh pemerintah melalui BUMN (Jasindo). Selain itu rasio klaim asuransi pertanian yang diberikan kepada petani, dibanding dengan iuran yang dibayarkan petani untuk asuransi masih minim dibandingkan jasa asuransi di bidang lain,” terang Zaenul.
Berkaitan dengan program RDKK, faktor lainnya adalah sulitnya mencari sarana produksi pertanian juga berpengaruh pada minat pemuda untuk bertani.
“Meskipun sudah ada pupuk bersubsidi, masih banyak kesulitan dalam ketersediaan pupuk,” tambah Zaenul. (edo/cho)
Editor : Yuan Edo Ramadhana