Setyo Wahono-Nurul Azizah dan Teguh Haryono-Farida Hidayati merupakan kedua bakal pasangan calon (bapaslon) yang akan berebut suara pada Pilkada Bojonegoro 2024, tanggal 27 November mendatang. Kedua bapaslon mulai bergerak memikat hati para calon pemilih.
PASCA pendaftaran Bapaslon Bupati dan Wakil Bupati Bojonegoro untuk Pilkada Bojonegoro 2024 di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bojonegoro, Jawa Pos Radar Bojonegoro membuat survei. Durasinya mulai 30 Agustus hingga 1 September. Diketahui, Minggu (1/9), sebanyak 953 responden mengisi survei tersebut.
Jumlah responden tentu jauh dari total daftar pemilih sementara (DPS) Bojonegoro yang mencapai 1 juta pemilih. Juga, tak menutup kemungkinan satu pengisi survei menggunakan lebih dari satu email. Namun, Jawa Pos Radar Bojonegoro berupaya menyebarkan survei tersebut kepada masing-masing tim bapaslon, serta perwakilan warga dari 28 kecamatan di Bojonegoro.
Jadi, hasil survei selama tiga hari tersebut, bapaslon Setyo Wahono-Nurul Azizah unggul. Yakni, 544 responden (57,1 persen). Sedangkan, bapaslon Teguh Haryono-Farida Hidayati meraih 380 responden (39,9 persen). Dan, 29 responden (3 persen) memilih golput atau abstain.
’’Sementara saya pribadi masih netral. Tapi, lebih condong ke koalisi Teguh-Farida,’’ ujar Wio Nur Ibrahim warga Desa/Kecamatan Kapas Minggu (1/9). Dia mengatakan, posisi netralnya dikarenakan kedua bapaslon belum menjelaskan program diusung.
Namun, dia mengatakan, saat ini memilih bapaslon Teguh-Farida sebab isu politik dinasti beredar. Menurutnya, sangat tidak baik kondisi politik nasional. ’’Sangat menjijikkan seperti kita lihat saat ini. Ada ketakutan Bojonegoro muncul dinasti politik dan nepotisme seperti di pusat,” khawatirnya.
Terpisah, kepribadian dan kiprah bacabup Setyo Wahono menjadi alasan Suprayitno Fajar Wicaksono mendukung paslon Wahono-Nurul. Menurutnya, pribadi Wahono suka ngrejoni dan ngguyubke anak-anak muda dan warga sekitar.
Juga, sering mengadakan event di Desa Dolokgede yang melibatkan banyak kalangan masyarakat dan membawa kebermanfaatan. Sehingga, paslon Wahono dan Nurul dirasa ideal. ’’’Terlebih keduanya sama-sama asli Bojonegoro,” ujar pria 23 tahun tersebut.
Pemuda asal Desa Sukorejo, Bojonegoro tersebut mengatakan, bahwa melihat bapaslon Wahono-Nurul bukan sekadar secara politik atau transaksional. Tapi, sebagai anak muda. Sehingga, penting baginya untuk tetap memihak, namun harus tetap rasional.
Sementara itu, Agus Romadhoni warga Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander mengatakan, pihaknya hingga saat ini masih memutuskan untuk golput. Bahkan, dua kali pemilihan sebelumnya ia mengatakan, tidak memilih calon. ‘’70 persen masih memutuskan golput untuk Pilkada 2024,’’ beber dia.
Alasannya, bapaslon belum terlihat membawa program atau visi dan misi ke depan. Sebab, jika hanya belajar dari baliho kurang efektif. Namun, jika ada bapaslon membawa arah tujuan bagus, menurutnya, meski golput akan tetap mendukung program. (yna/ewi/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana