Jumlah panen pun merosot karena berkurangnya jumlah bibit dan pupuk bersubsidi. Hasil panen dibeli tengkulak dari Jawa Tengah. Harga jagung panen kedua ini menurun dibanding sebelumnya,” tutur Sardi petani jagung warga Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo, Senin (19/6).
Rerata petani wilayah barat Bojonegoro menanam jagung dan panen dua kali setahun. Panen pertama sekitar Februari, sedangkan kedua awal Mei hingga Juni. Seperti dialami petani jagung warga Desa Ngelo dan Desa Kalangan.
Kami panen dua kali setahun. Bertepatan kondisi wilayah, jagung yang memungkinkan kami tanam dan panen lebih dari satu kali. Padi hanya panen satu kali (setahun),” jelasnya.
Sardi mengatakan, masa tanam kedua pembibitan berkurang dan harga jagung menurun. Pembibitan musim tanam pertama sekitar 8 kilogram, sedangkan musim kedua hanya 7 kilogram.
Luas lahan tanam jagung sekitar setengah hektare. Panen pertama dapat dua ton satu kuintal, sekarang di bawah itu,” bebernya.
Menurut Sardi, menurunnya hasil panen juga karena berkurangnya pupuk bersubsidi. Kalau membeli pupuk nonsubsidi keberatan, kami kurang mampu,” ujarnya. (yna/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto