Usfri Rarandra pegiat lingkungan dan tanaman menyayangkan penebangan pohon angsana di Bojonegoro. Apalagi tanaman penggantinya seperti tabebuya dan pule kemampuan serapan karbonnya bakalan belum optimal.
Pohon angsana yang telah berumur puluhan tahun tersebut kapasitas penyerapan emisinya jelas lebih besar. ‘’Berbeda dengan pohon baru tabebuya atau pule, yang tentu membutuhkan waktu lama untuk mencapai titik optimalnya,” ungkapnya.
Usfri menambahkan, alasan penebangan yaitu menghalangi saluran drainase, seharusnya bisa dilakukan rekayasa teknik dalam pembangunannya. Karena pohon di kawasan Alun-Alun Bojonegoro tidak menghambat laju air. Selain itu, kawasan tersebut termasuk dataran tinggi dan tidak termasuk rawan banjir.
‘’Kalau alasan safety akibat takut membahayakan, itu tugas dinas lingkungan dan pertamanan. Yang harus me-maintenance asetnya yang berharga,” bebernya.
Sebelumnya, Kabid Prasarana, Sarana, dan Utilitas (PSU) Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (DPKPCK) Bojonegoro Iwan Maulana mengatakan, akar pohon dicabut agar tidak mengganggu drainase, karena selama ini merupakan faktor tersumbatnya aliran air di drainase.
Berdasar data yang dihimpun, sebanyak 718 pohon di enam jalan di kawasan perkotaaan yang ditebang tahun ini, dampak pembangunan trotoar dan drainase. Salah satunya pohon penghijauan jenis Angsana yang ada di sekitar Alun-alun Bojonegoro berusia sekitar 50 tahun. (dan/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto