BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Kendaraan besar seperti bus tidak bisa langsung menuju pusat Gerabah Malo hingga Minggu (18/6). Alasannya, akses jalan kurang lebar. Pemerintah desa (pemdes) setempat berharap jalan desa menjadi jalan poros kabupaten.
Banyak pengunjung luar kota menggunakan bus tidak bisa masuk langsung ke tempat tujuan seperti Wisata Edukasi Gerabah (WEG),” ujar Kepala Desa Rendeng, Kecamatan Malo, Muslih.
Menurut Muslih, proses pembuatan gerabah masih tradisional menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan dalam hingga luar kota. Gerabah Malo dianggap sebagai warisan nenek moyang patut dilestarikan hingga sebagai mata pencaharian rerata masyarakat desa setempat.
Namun, kini muncul tantangan baru dan kendala yang harus diselesaikan. Kendala kami hingga kini terkait akses masuk desa. kendaraan besar seperti bus tidak bisa masuk langsung. Jalannya belum bisa dilalui,” terangnya.
Pemdes Rendeng mengajukan jalan desa sebagai jalan poros kabupaten dan berharap segera terealisasi tahun ini. Sudah kami ajukan namun belum tahu hasilnya sampai sekarang. Kami harap segera disetujui tahun ini,” ungkapnya.
Menurut dia, jalan akses masuk wisata gerabah merupakan hal penting dalam meningkatkan jumlah pengunjung yang juga termasuk tantangan bagi pengelola badan usaha milik desa (BUM Desa).
Sabtu dan Minggu menjadi hari terpadat. Hampir penuh kunjungan. Sampai ada MoU dari beberapa sekolah dengan WEG,” bebernya.
Namun, belum banyak sekolah di Bojonegoro melakukan kunjungan dan menjalin kerja sama dengan WEG. Sehingga diperlukan upaya lebih dari BUM Desa untuk door to door ke lembaga pendidikan.
Pada 2021 kunjungan wisata ke Desa Rendeng khusunya WEG mencapai 5.289 wisatawan. 2022 mencapai 18.564 wisatawan dan 2023 per awal Juni mencapai angka 9.311 wisatawan. Mulai menunjukkan peningkatan setelah pandemi,” pungkasnya. (yna/msu) Editor : M. Yusuf Purwanto