Berdasar data dinas Pendidikan, pada 2021 tidak ada peserta didik putus sekolah pada pendidikan dasar. ‘’Pendidikan dasar meliputi SD/MI sederajat dan SMP/MTs sederajat. Lembaga pendidikan itu dinaungi dinas pendidikan,” kata Sekretaris Disdik Suyanto, Selasa (27/12).
Angka putus sekolah terbanyak pada 2018 hingga 2019, yakni 20 peserta didik. Menurun pada 2020 dengan dua angka putus sekolah. Kembali naik pada 2022 dengan angka putus sekolah enam siswa. ‘’Selain nikah dan ikut orang tua, gengsi juga penyebab anak tidak mau sekolah pada jenjang SMP. Karena ingin naik motor padahal belum punya SIM,” ungkapnya.
Data milik disdik belum dipastikan valid. Namun, menganggap pendidikan Bojonegoro sudah merata. “Karena setiap wilayah sudah ada sekolah. Juga, ada pendidikan kesetaraan berupa paket A, B, dan C. Saya rasa pendidikan sudah merata meski di daerah terpencil,” klaimnya.
Disdik, menurut dia, belum bisa memastikan angka putus sekolah dan persebaran tingkat lulusan masyarakat. Hanya sampai degan SD/MI sederajat atau sampai SMP/MTs sederajat. ‘’Karena mengrucutkan data berdasar tiga komponen. Pendidikan formal, pendidikan nonformal, dan dukcapil (penduduk dan catatan sipil),” tambahnya.
Kabid pendidikan dasar disdik Fathur Rohim menambahkan, data saat ini tidak tuntas. Termasuk angka putus sekolah hingga dapodik belum valid. ‘’Belum ada angka pasti. Masih kendala perolehan data karena saat ini via google form,” jelasnya. (yna/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto