BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Buaya yang nongol di bantaran Bengawan Solo, turut Desa Kebonagung, Kecamatan Padangan, akhirnya nongol lagi kemarin (13/12). Bahkan, berdasar video amatir, gambarnya lebih jelas dan dipastikan buaya.
Kali pertama warga merekam kemunculan buaya di Desa Kebonagung pada Minggu (11/12). Sebelumnya, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Bojonegoro masih sangsi hewan itu buaya atau biawak.
Bahkan, berdasar informasi dihimpun Kepala Dinas Damkarmat Achmad Gunawan, setidaknya ada tiga ekor buaya. Namun, pihaknya bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bojonegoro masih belum memastikan ketiga ekor buaya itu satu spesies sama atau berbeda.
“Ketiga ekor buaya itu bisa satu kelompok. Dari segi ukuran masing-masing berbeda,” kata Gunawan.
Pihaknya menerjunkan delapan personel damkar dan tiga personel BKSDA turun ke bantaran Bengawan Solo sejak 08.30 hingga 17.00. Hasilnya masih nihil. “Hari ini (kemarin, Red) personel di lapangan sudah pasang perangkap simpul jerat disertai umpan. Harapannya umpan itu bisa mengundang si buaya,” katanya.
Keterangan BKSDA ia dapatkan, buaya memiliki kebiasaan berjemur jam-jam tertentu. Jadi tidak selalu berada di dalam air. “Dari keterangan warga, buaya itu muncul ke daratan sekitar pukul 09.00 hingga 10.00, serta pukul 11.00 hingga 13.00,” bebernya.
Gunawan mengimbau agar masyarakat tidak melakukan tindakan seperti menembak pakai senapan angin. “Sangat tidak dianjurkan menembak buaya. Karena ada sifat ikatan kelompok dari buaya. Dikhawatirkan buaya lainnya menyerang warga akibat ada buaya terbunuh,” tegasnya. Jadi apabila mengetahui ada kemunculan buaya, segera laporkan tim damkar.
Kemunculan buaya itu kali pertama di Desa Kebonagung dan menurut BKSDA, buaya bukan hewan asli perairan Bengawan Solo. Ada dua kemungkinan, pertama buaya peliharaan orang lepas. Atau buaya dari perairan lain terbawa arus. Hingga berita ini ditulis, Radar Bojonegoro berusaha mengonfirmasi Kepala BKSDA Andik Sumarsono melalui pesan singkat WhatsApp. Namun belum ada respons. (bgs/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto