Dr. Arif Sabta Aji ahli gizi mengatakan, bahwa pemenuhan gizi maupun nutrisi untuk siswa agar tidak sampai telat waktu makan. Serta gizi seimbang kunci menjaga dan memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah.
Anak sekolah mengalami pertumbuhan fisik, kecerdasan, mental, dan emosional sangat cepat. Makanan mengandung unsur zat gizi diperlukan proses tumbuh kembang. Dengan mengonsumsi makanan bergizi dan teratur, anak tumbuh sehat. Sehingga mampu mencapai prestasi belajar. “Juga kebugaran mengikuti semua aktivitas sehingga menjadi sumber daya manusia berkualitas,” imbuh pria asli Desa Pacul, Kecamatan Bojonegoro Kota itu.
Aji menyarankan orang tua mengawali aktivitas anak dengan sarapan. Serta dibawakan bekal snack dan makan siang karena pulang sekolah sore. Karena makanan atau jajanan di kantin sekolah belum tentu aman dan sehat. Siswa juga dibekali air minum setidaknya ukuran 800 mililiter guna mencukupi kebutuhan cairan harian mencapai 2-2,5 liter per hari.
“Lalu konsumsi makanan bisa memenuhi kebutuhan kalori paling tidak 60-65 persen per hari selama di sekolah. Anak usia sekolah butuh 1.650-2.000 kcal per hari,” kata dosen Universitas Alma Ata Yogyakarta itu.
Aji menambahkan, bahwa komitmen pemenuhan gizi siswa jangan hanya dibebankan orang tua. Tapi juga pihak sekolah mengawasi kualitas makanan dan jajanan di kantin sekolah. Sebab, tak semua orang tua punya waktu membuat bekal untuk si anak.
Dampak buruk lainnya apabila jadwal makan tidak teratur bisa menyebabkan kurang darah atau anemia. Akibatnya 5-L terdiri lesu, lelah, letih, lemah, lalai dan memengaruhi turunnya produktivitas dan konsentrasi siswa selama di sekolah. “Jika berlangsung terus menerus, bisa sampai mengakibatkan asam lambung naik atau sakit maag,” pungkasnya. (bgs/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto