Kepala Desa (Kades) Ngradin Ngatemin menerangkan, bahwa acara gropyokan atau memetan ikan di desanya memang digelar setahun sekali. Ketika air waduk mulai surut dan ikan-ikan sudah beranjak dewasa. “Setiap tahun acara gropyokan selalu meriah. Ratusan warga yang datang, tidak hanya warga kawasan Kecamatan Padangan saja, tapi juga warga Tambakrejo, Kasiman, hingga Cepu, Blora,” ujarnya.
Bahkan, bukan hanya orang-orang dewasa yang ikut, tapi juga dari kalangan anak-anak dan ibu-ibu saling berebut mendapatkan ikan. Tradisi gropyokan pun jadi ajang menumbuhkan kebersamaan dan kekompakan antarwarga. “Setidaknya warga-warga asli Desa Ngradin turut menjaga waduk yang mana selama ini dikelola oleh karang taruna setempat,” katanya.
Adapun berbagai jenis ikan air tawar seperti nila, gabus, tombro, bandeng, mujair dan wader bisa diperoleh di waduk seluas 121x85 meter itu. Ngatemin juga berpesan hasil dari acara gropyokan agar tidak semuanya masuk kas karang taruna, tapi alangkah baiknya digunakan untuk kegiatan sosial. “Alhamdulillah hasil dari tiket acara gropyokan itu ada yang disumbangkan untuk musala setempat,” bebernya.
Puji Santoso salah satu warga setempat mengatakan hasil tangkapan ikan di Waduk Ngradin digunakan untuk lauk disantap bersama keluarga. Ia selalu menantikan acara gropyokan itu setiap tahunnya. ”Berharap kedepannya ikannya bisa lebih banyak lagi dan desa ngradin lebih dikenal,” pungkasnya. (bgs/msu) Editor : M. Yusuf Purwanto