Bangunan-bangunan tua itu seperti melintas zaman. Sejak masa kolonial. Desain bangunan hampir menyerupai. Satu kesamaan dereta bangunan tua itu, yakni bangunan menghadap Sungai Bengawan Solo.
Beberapa bangunan tertutup rapat dan gelap. Seperti tak berpenghuni. Namun, terdapat satu bangunan berpagar dan pintunya terbuka. Tiga pintu masing-masing berdaun pintu dua terbuka lebar.
Jawa Pos Radar Bojonegoro masuk ke halaman rumah tua tersebut kemarin (13/5). Kesan megah begitu terasa. Dua pilar besar di teras. Tiga pintu besar dengan tingi 3 meter menghiasi depan bangunan. Juga langit-langit tinggi mencapai lima meter.
Di atas masing-masing pintu terdapat ventilasi udara. Tergabung dengan kusen pintu. Teralis besi berarsitektur kuno menghiasi ventilasi udara besar tersebut. Langit-langit rumah terbuat dari papan kayu yang disusun. Semua perkakas bangunan masih utuh.
Masuk ke dalam bangunan suasana kuno semakin terasa. Ubin menghiasi lantai. Ruangannya luas dengan dua kamar di kanan-kiri. Pintu kamar pun berdaun dua. Ukuran lebih kecil dari pintu depan.
Masuk lebih malam terdapat ruang makan dipisah tembok tebal dari ruangan depan. Dua pintu tanpa daun menjadi akses menuju ruang makan. Juga menuju bagian belakang rumah.
Rumah zaman kuno identik taman berada di belakang dengan halaman luas. Masih ada dua bangunan di kanan kiri halaman. Salah satu bangunan kini digunakan sebagai sarang walet. Juga sumur tua di pojok halaman.
Tarno penjaga rumah tua berada di Jalan Jaksa Agung Suprapto tersebut mengaku bangunan tua itu kini sudah dibeli orang Lamongan. Dibeli dari orang keturunan Tionghoa. Dan sudah ditempatinya selama dua tahun.
Pria asal Desa Temu, Kecamatan Kanor, tersebut mengatakan sejak pertama menempati rumah tua bernomor 207 itu tidak ada bagian diganti dan diperbaiki. Tentu karena masih kokoh dan belum ada kerusakan meski bangunan tua.
Pria 59 tahun itu menjelaskan, banyak warga sekitar yang menganggap rumah tersebut angker. Terdapat makhluk halus, namun selama dirinya menempatinya tidak pernah menjumpainya. Hanya anaknya pernah sekali melihat sosok nyonya Belanda di rumah tersebut.
Menurut Tarno, banyak anak-anak muda datang ke rumah tersebut untuk berfoto. Arsitektur kuno menjadi daya tarik. Bahkan sempat ada berencana membuat video. “Hingga kini belum terlaksana,” ujarnya. (irv/rij)