Rekomendasi diberikan oleh dinas perdagangan, koperasi, dan usaha mikro.
“Kami pengajuan ke Pemprov Jawa Timur yang mana rekomendasinya diberikan dinas perdagangan Bojonegoro. Alhamdulillah tidak lagi kewalahan dapatkan stok minyak goreng curah,” kata Sumarsono pengurus Paguyuban Produsen Tahu Ledok Kulon.
Menurut dia, pasokan minyak goreng curah sudah dikirim ke Ledok Kulon tiga kali. “Pertama datang 20 ton, kedua 15 ton, dan ketiga 8 ton,” imbuhnya.
Alasan meminta pasokan dari luar Bojonegoro, karena memang ketersediaan di daerah stoknya terbatas. Sedangkan, kebutuhan minyak goreng masing-masing produsen tahu Ledok Kulon rata-rata 20 kilogram per hari.
Harga minyak goreng curahnya sesuai harga eceran tertinggi (HET) yakni Rp 15.500 per kilogram. “Pasokan minyak goreng curah sudah tergolong aman, jadi kami bisa produksi kembali dengan lancar,” katanya.
Meski begitu para produsen tahu masih mengeluhkan harga kacang kedelai impor masih mahal. Yakni, sekitar Rp 11.700 per kilogram. Pihaknya masih berusaha melakukan pengajuan subsidi pasokan kacang kedelai impor ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro.
“Berharap tingginya harga kacang kedelai impor ini mendapat perhatian pemerintah, minimal ada subsidi,” katanya.
Hal senada disampaikan perwakilan paguyuban produsen tempe Slamet Khudori, bahwa tingginya harga kacang kedelai impor perlu ada kekompakan menaikkan harga tempe. Namun, pihaknya masih belum ada kesepakatan bersama atau satu suara terkait kenaikan harga tempe. Sehingga, mereka masih fokus memperkecil ukuran.
“Sejauh ini opsinya cuma dua, tetap memperkecil ukuran tempe dan menaikkan harga tempe,” ujarnya. (bgs/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto