Apalagi harus berani tantangan karena selama ini sawahnya di Desa Balongrejo, Kecamatan Sugihwaras, itu ditanami padi dan jagung. Akhirnya, ladangnya diubah menjadi kebun pisang. ‘’Saya nekat saja pokoknya,’’ tuturnya mengenang.
Perjuangan tidak berhenti di situ. Bibit pisang cavendis tidak semudah itu bisa hidup. Saat kemarau melanda, tanaman pisangnya kekurangan air. Padahal, cavendis jenis pisang yang tanahnya tidak boleh kering. Jika tanahnya tidak basah, pisangnya bisa mati.
‘’Kalau terendam air juga bisa membusuk. Jadi, hanya boleh basah saja,’’ jelasnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro Rabu (16/3) lalu.
Semua itu membutuhkan perjuangan. Saat kemarau harus memastikan ada air menyiram kebuh pisang itu agar tanahnya tetap basah. Saat hujan harus mengatur sedemikian rupa agar air tidak menggenang.
Kini, Anang sapaan akrabnya sudah bisa memetik hasil perjuangan itu. Buah pisangnya cukup laris. Harganya masih bagus. Permintaan semakin lama kian banyak hingga kewalahan.
Cavendis tidak sama dengan pisang jenis lain. Proses pematangannya berbeda. Pisang jenis lain bisa matang di pohon dengan sempurna. Bahkan, bisa matang di suhu ruangan biasa. Namun, itu berbeda dengan cavendis.
Jenis pisang ini hanya bisa matang sempurna dengan suhu ruangan dengan mesin pendingin atau air conditioner (AC). Tanpa itu pisang tidak bisa matang sempurna. Jika matang pun warnanya tidak bisa bagus seperti di ruang ber suhu AC.
‘’Itulah yang membuat harga pisang cavendis mahal. Harus matang di ruang ber-AC,’’ tutur pria 52 tahun ini.
Pisang cavendis sebenarnya bisa matang di suhu ruang biasa. Namun, warna buahnya tidak bisa kuning sempurna seperti di ruang ber-AC. ‘’Pedagang biasa tidak bisa membuatnya matang sempurna. Itulah yang membuat pisang ini istimewa,’’ jelasnya.
Menurut Anang, panen pisangnya dibeli sejumlah pabrikan penjual pisang. Mulai dari Kabupaten Sidoarjo hingga Blitar.
Biasanya ia memanen pisang dua minggu sekali. Oleh pembeli, pisang dikemas dan kembali dijual di supermarket di sejumlah daerah di Indonesia.
Saat ini Anang memiliki 3.000 batang pohon pisang. Jumlah itu tersebar di tujuh lokasi. Sebagian lahannya sendiri. Juga harus menyewa lahan. Sejauh ini di desanya belum ada petani tertarik mengikuti jejaknya. Padahal, bertanam cavendis tidak begitu sulit. ‘’Rata-rata banyak yang takut rugi. Mereka tidak yakin bisa mendapatkan keuntungan,’’ ungkap dia. (zim/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto