Dunia militer bukan duniaku, tetapi 30 tahun aku berada di dalamnya” kutipan Letjen Soedirman dalam buku Renungan Indonesia Raya itu akan abadi. Pahlawan lahir di tepi Bengawan Solo Desa Ngiringinrejo itu beradu cerdik dengan pasukan Jepang dan Belanda.
RUMAH berarsitektur kuno itu masih terlihat kokoh tepat di depan Masjid Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu. Berdinding papan kayu dengan cat krem. Pilar, pintu, dan jendela kayu bercat cokelat tua. Rumah kombinasi cat kalem ini ternyata menyimpan sejarah panjang sosok pejuang Letjen Soedirman.
Desain bangunan belum berubah dari aslinya. Jendela terbuat dari kayu. Atap berupa genteng dan beberapa pohon mengelilingi rumah tua tersebut. Terdapat kursi, meja, perabot lain masih terawat. Ada dua kamar terletak di ruang tengah. Satu kamar bagian belakang. Foto-foto keluarga dan beberapa kenangan Jenderal Soedirman saat bertugas.
Rumah tersebut tempat lahir Letjen Soedirman pada 1913 dan wafat pada 1993. Sosok pahlawan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta, itu meninggalkan kesan mendalam bagi warga desa dan keluarga. Sosok berjiwa sosial tinggi dan kesederhanaan. “Beliau ketika pulang ke desa tidak pernah mau dikawal. Keluarga yang menjemputnya sendiri,” tutur Moch Ghosni keponakan Letjen Soedirman.
“Tanah milik bapaknya Pak Soedirman, beliau yang kemudian meneruskannya untuk dibangun dan perbaikan masjid,” ujar Ghosni, sosok yang menghuni rumah pejuang itu.
Seorang pemerhati sejarah Aziz Atias Deli turut membantu berikan cerita sejarah Soedirman. Deli mengoleksi beberapa foto dan buku biografi Soedirman. Buku berjudul Renungan Indonesia Raya Soedirman menjadi satu-satunya rujukan. Buku diterbitkan Yayasan Biografi Indonesia pada 1994 silam itu telah mengupas tuntas perjalanan hidup Soedirman.
“Di dalam bukunya ada dokumentasi foto, wawancara dengan Soedirman, orang terdekat Soedirman, dan anak-anak Soedirman,” beber Deli.
Saat membuka halaman awal buku biografi tersebut, tepatnya di Bab I Prolog dituliskan kutipan Soedirman yang lugas pun bermakna mendalam: “Dunia militer bukan duniaku, tetapi 30 tahun aku berada di dalamnya”.
Pejuang kelahiran 15 Agustus 1913 di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, itu mengawali karirnya sebagai seorang guru. Anak kelima dari 14 bersaudara pasangan Daryokarto Prawiro dan Kulah itu seperti anak desa pada umumnya. Lahir dan besar di bantaran Sungai Bengawan Solo, Soedirman semasa kecil dikenal sebagai anak pendiam.
Meski Soedirman anak kepala desa setempat, namun sudah terbiasa mencangkul, mengasuh adik-adiknya, dan menggembala. Semasa kecil Soedirman sudah akrab dengan air karena dekat Bengawan Solo. Gemar memancing, lihai berenang, dan terlatih hadapi banjir.
“Ayah Soedirman merupakan inisiator terbentuknya, Desa Ngringinrejo. Karena sebelumnya Desa Ngringinrejo terbagi dua desa yakni Desa Mejayan dan Desa Ngringin,” jelas Deli sapaan akrabnya.
Pendidkan awal Soedirman di Sekolah Desa (volk school) di Desa Leran. Berlanjut Sekolah Ongko Loro (vervolgschool), kemudian masuk Sekolah Peralihan (schakel school). Soedirman lanjut kursus Sekolah Guru dan meneruskan sekolah keguruan di Normaal School Jombang. Soedirman tamat sekolah guru 1931.
“Usai sekolah guru, Soedirman mengajar di sekolah turut Kecamatan Ngraho hingga 1941,” tulis buku biografi Soedirman tersebut.
Watak nasionallsme dan jiwa mendidik Soedirman menggiringnya masuk ke dunia militer. Soedirman tertarik menjadi tentara karena melihat aksi-aksi heroik tentara Jepang mampu memukul mundur Belanda. Soedirman pun memantapkan diri daftar menjadi tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor pada 1943.
Soedirman merupakan angkatan pertama PETA. Berbeda lichting dengan Panglima Besar Jendral Raden Soedirman yang mana bergabung PETA pada 1944. Alasan Soedirman masuk PETA bukan semata-mata ingin jadi prajurit profesional, tapi ingin memberi teladan kepada murid-muridnya yang sudah dewasa.
Setelah lulus angkatan pertama PETA, Soedirman ditugaskan di Bojonegoro sebagai Daidancho (komandan batalion) pada Dai Ichi Daidan Bojonegoro sejak 1943. Selanjutnya Chudancho (komandan kompi)
“Hal negatif dari Jepang adalah kesombongan mereka sebagai ‘saudara tua’. Sedangkan hal positif Jepang ialah agaknya kita memiliki rasa percaya diri dan kesiapan militer sedemikian besar,” tulis kutipan Soedirman di buku tersebut.
Kemudian usai PETA dibubarkan, Soedirman ikut membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) bersama teman-temannya. Selanjutnya, saat Agresi Militer I pada 1947, Soedirman diangkat menjadi Komandan Resimen membawahi Batalyon Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan menggantikan Maskur Djupri.
Memasiku Agres Militer II pada 1948, Soedirman mulai menghadapi sejumlah tantangan besar. Soedirman diangkat menjadi Komandan Brigade Ronggolawe dengan pangkat Letnan Kolonel (Letkol) menggantikan Letkol Sunarto. Ujian awal Soedirman saat menjadi Komandan Brigade Ronggolawe yakni pemberontakan PKI Madiun. Selanjutnya pendaratan pasukan Belanda di Pantai Glondong, Tuban pada 18 Desember 1948.
Pada penyerbuan Belanda kedua ini, Desa Temayang sebagai basis terakhir Brigade Ronggolawe hendak diduduki Belanda. Namun, syukurnya Desa Temayang mampu dipertahankan, karena Brigade Ronggolawe banyak mendapat bantuan dari segenap lapisan penduduk. Hingga akhirnya gencatan senjata dan boleh dikatakan Desa Temayang merupakan Pusat Komando Brigade Ronggolawe.
Karir militer Soedirman masih belum selesai. Pada 1952 bapak enam enak itu diangkat menjadi Panglima Teritorium V/Brawijaya. Namun, uniknya di buku tersebut menuliskan, bahwa Soediman lima kali mengajukan pengunduran diri. Tapi, tak pernah disetujui. Sebab hati nurani Soedriman sebenarnya tak menyukai kekerasan dan cinta damai.
Tugas baru menanti Soedirman. Pada 15 Juli 1956 Komando Daerah Pengamanan Sulawesi Selatan dan Tenggara (KoDPSST) dilantik dan Soedirman diangkat sebagai panglimanya. Komandan ini mempunyai wewenang operasi militer di Makassae, Bothain, Bone, Parepare, Nandar, Luwu, dan Sulawesi Tenggara. KoDPSST dibentuk untuk menghadapi pemberontakan Darul Islam Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dipimpin Kahar Muzakkar.
“Alasan dipilihnya Soedirman karena memiliki daya tarik Islam untuk mengimbangi Kahar Muzakkar,” tulis buku itu.
Soedirman menyebut operasinya bernama Operasi Metafisika berusaha menghindari aksi kekerasan. Dia lebih mengedepankan perundingan dan musyawarah dengan pejabat sipil setempat. “Kita tidak bisa memberi isyarat dengan tangan kiri sambil memegang pistol di tangan kanan. Kita bukan menghadapi bandit atau ekstremis, tetapi para gerilyawan,” kutipan Soedirman.
Pada 1961, Soedirman turut mendirikan Yayasan Pendidikan Dakwah Islam. Soedirman selain dikenal sebagai tentara juga termasuk tokoh muslim. Dia menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) sejak 1975. Juga aktif organisasi Pramuka.
Soedirman menghembuskan nafas terakhirnya pada 5 Juli 1993 di Jakarta. Soedirman dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta. (luk)