Waduk Tempuran Mengering Diubah Jadi Sawah

Achmad Syaeroyzi • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 07:40 WIB
ALIH FUNGSI LAHAN: Puluhan petani menanam padi, jagung, timun, hingga lombok di Waduk Tempuran yang mengering saat kemarau. (ACHMAD SYAEROYZI/RADAR BOJONEGORO)
ALIH FUNGSI LAHAN: Puluhan petani menanam padi, jagung, timun, hingga lombok di Waduk Tempuran yang mengering saat kemarau. (ACHMAD SYAEROYZI/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Sekitar 20 warga memanfaatkan menyusutnya volume air Waduk Tempuran menjadi lahan pertanian padi, jagung, timun, hingga lombok. Pantauan di lapangan, sebagian tanaman sudah besar dan tumbuh dengan baik. 

Namun ada juga yang baru proses pengolahan lahan. Salah satu warga yang memanfaatkan Waduk Tempuran sebagai lahan pertanian, Sarigi, 61, mengakui, dirinya sudah mulai menanam di lokasi waduk sejak sebulan terakhir.

‘’Saya tanam padi, jagung, lombok dan timun,’’ katanya.

Menurut dia, menanami waduk saat kekeringan biasa dilakukan selama bertahun-tahun. ‘’Gak punya tanah, tanah di sini dibuat waduk,’’ ujarnya.

Sarigi mengatakan, Waduk Tempuran memiliki lahan subur yang cocok untuk pertanian. ‘’Yang saya tanami sekitar setengah hektare,’’ bebernya.

Baca Juga: Volume Waduk Tempuran Menyusut Drastis, Ratusan Hektare Sawah Terdampak

Setidaknya sudah puluhan warga melakukan hal serupa seperti yang dilakukan Sarigi. Satu sisi hal itu menguntungkan warga karena mereka bisa mendapatkan akses lahan.

Sebaliknya, konsekuensi yang dihadapi ialah ketika terjadi hujan mendadak, yang membuat air waduk meninggi seketika dan warga belum panen. ‘’Kalau ada hujan, misal kebanjiran, gak apa-apa, namanya aji mumpung,’’ imbuhnya.

Pengurus bagian operasi Waduk tempuran, Giyono menjelaskan jika saat ini terjadi penurunan debit air sangat drastis. ‘’Saat ini elevasi 113,6 mdpl. Lalu volume 9.116,8 meter kubik,’’ katanya.

Padahal jika dalam kondisi normal, volume air maksimal mencapai 1,7 juta meter kubik. ‘’Ini sudah rendah sekali. Karena gak ada hujan sejak bulan Mei,’’ tambahnya. (ozi/ind)

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
penurunan debit air kekeringan Pertanian waduk tempuran