Terminal di Kabupaten Blora Kian Sepi, PAD Baru Tercapai 59 Persen

Achmad Syaeroyzi • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:10 WIB
LENGANG: Terminal Ngawen dinilai aktivitasnya paling ramai dibanding tiga terminal lain di Kabupaten Blora. (ACHMAD SYAEROYZI/RDR.BJN)
LENGANG: Terminal Ngawen dinilai aktivitasnya paling ramai dibanding tiga terminal lain di Kabupaten Blora. (ACHMAD SYAEROYZI/RDR.BJN)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Aktivitas terminal tipe C di Kabupaten Blora kian sepi. Kondisi tersebut turut berdampak terhadap penerimaan pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor retribusi terminal.

Kepala UPT Terminal dan Parkir Dinas Perumahan, Permukiman dan Perhubungan (Dinrumkimhub) Blora, Adhitya Mukti Sanjaya mengatakan, realisasi PAD dari empat terminal yang dikelola Pemkab Blora hingga semester satu tahun ini mencapai Rp 57,9 juta.

Capaian tersebut sekitar 59 persen dari target PAD tahun ini yang ditetapkan sebesar Rp 97,5 juta.

Baca Juga: Menyusut Drastis, Angkutan Umum di Blora Tinggal 67 Armada

“Sumbernya dari retribusi kios dan TPR (tempat pemungutan retribusi, red),” ujarnya.

Empat terminal tipe C yang dikelola Pemkab Blora meliputi Terminal Ngawen, Randublatung, Kunduran, dan Todanan. Namun, dari empat terminal tersebut, aktivitas angkutan umum masih terlihat di Terminal Ngawen.

Menurut Adhitya, kendaraan yang masuk Terminal Ngawen rata-rata hanya sekitar 10 hingga 15 armada per hari. Setiap armada dikenai retribusi TPR sebesar Rp 5 ribu.

Baca Juga: Angkutan Pelajar Bojonegoro Ternyata Tak Beroperasi sejak 1 Januari

“Yang masih cukup ramai Terminal Ngawen. Tapi lahan terminal juga terbatas, sehingga jumlah armada yang masuk tidak banyak,” jelasnya.

Dia menyebut target PAD dari terminal tersebut dalam beberapa tahun terakhir juga tidak mengalami penambahan signifikan. Salah satu penyebabnya adalah semakin berkurangnya jumlah angkutan umum yang beroperasi.

Kondisi tersebut juga terlihat dari jumlah kios di empat terminal. Saat ini hanya terdapat 27 kios yang menjadi salah satu sumber retribusi daerah.

“Jumlah kiosnya hanya 27. Jadi kontribusi retribusi kios juga belum maksimal,” terangnya.

Di sisi lain, masyarakat kini lebih banyak menggunakan kendaraan pribadi. Perubahan pola transportasi itu membuat keberadaan angkutan umum semakin terpinggirkan dan berimbas pada aktivitas terminal tipe C.

Dinrumkimhub Blora mencatat saat ini hanya tersisa 67 armada angkutan umum. Jumlah tersebut turun drastis dibandingkan 2005 yang mencapai 202 armada.

Padahal, kebutuhan ideal angkutan umum di Kabupaten Blora diperkirakan mencapai 205 armada. Artinya, jumlah armada yang beroperasi saat ini masih jauh dari kebutuhan ideal.

Baca Juga: Di Blora Hanya Tersisa 74 Angkutan Umum, Dinrumkimhub Sebut Jauh Dari Ideal

Puluhan armada yang tersisa tersebut melayani lima koridor. Rinciannya, Blora-Kunduran sebanyak 23 armada, Blora-Cepu 21 armada, Blora-Medang-Bulu 11 armada, serta Blora-Jepon dan Cepu-Randublatung-Doplang-Sulur masing-masing enam armada.

Penurunan jumlah angkutan umum tersebut menjadi salah satu gambaran semakin minimnya aktivitas di terminal tipe C. Kondisi itu sekaligus menjadi tantangan bagi Pemkab Blora dalam mengoptimalkan penerimaan PAD dari sektor terminal. (ozi/ind)

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
armada cepu Terminal blora pad