RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pemkab Blora mulai menyiapkan ayam kampung sebagai salah satu motor baru penggerak ekonomi pedesaan. Tak lagi sebatas membagikan bibit ternak, pemerintah daerah menggandeng Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk menyusun ekosistem peternakan rakyat yang terintegrasi, mulai pembibitan, budidaya, pengolahan hasil, hingga pemasaran.
Heru Sasongko, peneliti Fakultas Peternakan UGM, menilai pengembangan ayam kampung selama ini masih berkutat pada peningkatan populasi ternak. Padahal, persoalan utama justru belum terbentuknya rantai usaha yang mampu memberikan nilai tambah bagi peternak.
“Kalau ingin berhasil, yang dibangun bukan hanya kandangnya, tetapi ekosistem perayamannya,” ujarnya.
Baca Juga: Pemkab Blora Masih Lobi UGM, Berupaya Relokasi Warga Terdampak Bendungan Karangnongko di Lahan KHDTK
Menurutnya, peluang pasar ayam kampung masih terbuka lebar karena permintaan daging dan telur lokal terus terjaga. Namun, produktivitas ternak rakyat belum maksimal akibat kualitas genetik yang terus menurun. Kondisi itu dipicu praktik seleksi negatif yang berlangsung selama bertahun-tahun. Ayam dengan pertumbuhan terbaik dijual, sedangkan yang kualitasnya rendah dipertahankan sebagai indukan.
Akibatnya, pertumbuhan ayam menjadi lambat, ukuran tidak seragam, dan produktivitas menurun. UGM pun mendorong penerapan seleksi positif dengan menjadikan ayam berkualitas sebagai indukan agar mutu genetik meningkat dari generasi ke generasi.
Selain aspek genetik, UGM memperkenalkan empat pilar keberhasilan peternakan, yakni bibit unggul, nutrisi yang memadai, manajemen pemeliharaan yang baik, serta lingkungan kandang yang sehat. Keempat aspek itu dinilai harus berjalan beriringan agar usaha peternakan rakyat mampu berkembang secara berkelanjutan.
Baca Juga: Pemkab Blora Gandeng Sejumlah Perguruan Tinggi Untuk Memperkuat Kualitas SDM
Bupati Blora Arief Rohman mengatakan, konsep tersebut akan menjadi dasar penyusunan program pemberdayaan masyarakat yang digagas Pemkab Blora. Sasarannya tidak hanya keluarga berpenghasilan rendah, tetapi juga peternak yang telah memiliki usaha agar dapat berkembang lebih besar.
“Tahun lalu kita fokus pada pertanian organik. Kedepan kita ingin mendorong pemberdayaan masyarakat melalui ayam kampung agar bisa menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga,” katanya.
Saat ini, pola serupa telah dijalankan melalui Baznas Blora dengan memberikan bantuan sekitar 20 ekor ayam kepada keluarga kurang mampu.
Lebih lanjut, Arief menjelaskan, Pemkab Blora akan melibatkan Dinas PMD, DP4, serta pemerintah kecamatan untuk menyusun skema pendampingan mulai dari pembibitan, budidaya, kesehatan ternak, hingga perluasan akses pasar.
“Tujuannya, ayam kampung tidak lagi dipandang sebagai ternak rumahan semata, tetapi menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat desa,” ujarnya. (hul/ind)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah