RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Musim kemarau mulai menunjukkan dampaknya terhadap sektor pertanian di Kabupaten Blora. Sebanyak 69 hektare sawah terdampak kekeringan.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Peternakan (TPHPP) Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP4) Blora, Sukandar mengatakan, saat ini upaya penanganan lahan pertanian terdampak kekeringan melalui bantuan pompa.
Namun upaya tersebut belum mampu mengatasi persoalan secara optimal, karena ketersediaan air permukaan yang terbatas. ‘’Semua wilayah mengalami kekeringan sehingga pasokan air untuk areal persawahan semakin terbatas. Kondisi terparah berada di Kecamatan Kunduran dan Ngawen,’’ ujarnya.
Baca Juga: Kekeringan Hambat Perluasan Penanaman Tembakau di Bojonegoro
DP4 juga mulai mewaspadai potensi gagal panen, khususnya pada tanaman padi musim tanam (MT) III di wilayah tadah hujan. Pasalnya, banyak lahan yang mengandalkan air hujan dan memiliki risiko paling tinggi mengalami puso, apabila kemarau berlangsung lebih lama.
‘’Musim tanam ketiga di wilayah tadah hujan memang sangat rentan mengalami gagal panen jika kemarau terus berlanjut,’’ katanya.
Sukandar mengatakan, pihaknya mendorong para petani mengikuti program asuransi usaha tani padi (AUTP). Program tersebut diharapkan dapat memberikan perlindungan bagi petani apabila terjadi gagal panen akibat bencana, termasuk kekeringan.
Selain itu, pemerintah juga berencana mengusulkan bantuan benih bagi petani di wilayah terdampak, untuk digunakan pada musim tanam pertama (MT I) mendatang.
Baca Juga: Biaya Produksi Petani di Musim Kemarau semakin Tinggi
‘’Kami terus mensosialisasikan AUTP sebagai perlindungan bagi petani. Untuk musim tanam berikutnya juga akan diusulkan bantuan benih bagi wilayah yang terdampak,’’ ujarnya.
Ia juga menambahkan, berdasarkan perkiraan musim, kemarau diprediksi masih berlangsung hingga Oktober bahkan November 2026. Karena itu, petani di wilayah tadah hujan diimbau menyesuaikan pola tanam, dengan memilih varietas yang tahan terhadap kemarau.
‘’Kami merekomendasikan petani di wilayah tadah hujan menanam varietas super genjah atau komoditas lain yang kebutuhan airnya lebih rendah, agar risiko kerugian dapat ditekan,’’ pungkasnya. (ozi/ind)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah