Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Debit Air Turun Saat Kemarau, PDAM Blora Sebut Wilayah Utara Paling Rawan Kekeringan

Achmad Syaeroyzi • Kamis, 2 Juli 2026 | 18:59 WIB
JAGA PASOKAN AIR: Petugas PDAM melakukan pemeliharaan pipa air, sebagai persiapan menghadapi musim kemarau. (ACHMAD SYAEROYZI/RDR.BJN)
JAGA PASOKAN AIR: Petugas PDAM melakukan pemeliharaan pipa air, sebagai persiapan menghadapi musim kemarau. (ACHMAD SYAEROYZI/RDR.BJN)
RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Perumda Air Minum  (PDAM) Tirta Amerta Blora mulai pasang kuda-kuda menghadapi musim kemarau. 
Salah satu strategi yang disiapkan badan usaha milik daerah (BUMD) tersebut adalah menambah jam produksi air, demi menjaga pasokan ke pelanggan tetap terjaga. PDAM sebut wilayah utara Blora yang paling rawan kekeringan.

​Direktur Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Amerta Blora, Yan Riyan menjelaskan, kondisi sumber air baku saat ini sebenarnya masih normal. 

Selain itu pelayanan ke masyarakat pun berjalan tanpa kendala. ​Namun, antisipasi dini tetap dilakukan. 

‘’Sepanjang ketersediaan air baku masih mencukupi, kami akan menambah jam produksi di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Bendo, IPA Balun, IPA Tambakromo, sumur-sumur produksi, serta IPA Tinapan agar pasokan air tetap terjaga,’’ tutur Yan Riyan.

Baca Juga: Dorong Peningkatkan Omzet PDAM, Pemkab Blora Studi Tiru ke Boyolali

Saat ini kapasitas produksi PDAM mencapai 294 liter per detik (lps). Kapasitas tersebut masih mampu melayani 25.992 sambungan rumah (SR) yang tersebar di berbagai wilayah Kabupaten Blora.

Meski begitu, puncak musim kemarau berpotensi menurunkan debit sejumlah sumber air baku dan menurunnya muka air tanah.

‘’Menyusutnya debit Waduk Tempuran hingga keringnya Sungai Engkolan di Ngampel menjadi tantangan yang harus diantisipasi,’’ ujarnya.

Sedangkan, Wilayah Blora bagian utara, seperti Desa Tempuran, Ngampel, Sitirejo, dan Tambaksari diperkirakan menjadi daerah paling rawan mengalami penurunan debit.

Ia memastikan, PDAM tidak menutup kemungkinan menerapkan penggiliran distribusi air jika kondisi mulai memburuk.

‘’Kemungkinan kita juga akan dropping air bersih kepada pelanggan terdampak,’’ imbuhnya.

Saat ini sumber air baku PDAM berasal dari mata air Desa Kajengan, dengan kapasitas sekitar 6 lps, sumur produksi 63 lps, serta air permukaan sebesar 225 lps.

Namun pada puncak musim kemarau seluruh sumber air tersebut diperkirakan mengalami penurunan debit.

Baca Juga: PDAM Blora Klaim Belum Terpengaruh Kebijakan WFH, Layanan dan Distribusi Air Tetap Terjaga

Di sisi lain, pihaknya  memastikan tidak ada rencana kenaikan tarif pada sepanjang musim kemarau. ‘’Tarif air masih tetap sama,’’ tandasnya.

Untuk memperkuat ketahanan air bersih dalam jangka panjang, PDAM telah menyiapkan sejumlah rencana pengembangan kapasitas.

Di antaranya optimalisasi sistem penyediaan air minum (SPAM) berkapasitas 100 lps di Cepu, yang ditargetkan dibangun pada 2028. 

Selain itu, pembangunan SPAM 100 lps dari Waduk Randugunting, SPAM 100 lps dari Waduk Karangnongko, serta SPAM 50 lps dari Waduk Cabean.

Ia mengimbau seluruh pelanggan agar menggunakan air secara bijaksana selama musim kemarau. 

‘’Penghematan penggunaan air akan membantu menjaga ketersediaan pasokan hingga musim kemarau berakhir,’’ pungkasnya. (ozi/ind)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#PDAM #kekeringan #pasokan #Kemarau #Air