RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Untuk pertama kalinya, wayang krucil asal Desa Janjang, Kecamatan Jiken dipentaskan di Pendopo Rumah Dinas Bupati Blora, Sabtu lalu (11/4).
Bukan sekadar pertunjukan, momen ini menjadi penanda bahwa kesenian tradisional yang kian langka itu tengah berada di persimpangan, dilestarikan atau ditinggalkan.
Dalang sepuh wayang krucil Mbah Lamto membawakan lakon Raden Kusumo Jumeneng Noto di hadapan jajaran pejabat, tokoh budaya, hingga pelajar SD dan SMP.
Baca Juga: Bertekad Lestarikan Budaya, Geluti Wayang Kulit dan Krucil
Suasana tidak riuh, namun sarat makna. Sorot mata anak-anak yang menyaksikan menjadi harapan kecil bagi keberlanjutan seni ini.
Wayang krucil dikenal sebagai kesenian berbahan kayu dengan ukuran kecil, berbeda dari wayang kulit yang lebih populer.
Di Blora, eksistensinya semakin tergerus. Minimnya regenerasi dalang dan penonton membuat kesenian ini perlahan menjauh dari ruang publik, bahkan nyaris tak terdengar di tengah derasnya arus hiburan modern.
Baca Juga: Wayang Krucil Hiasi Syukur Hasil Bumi
Bupati Blora Arief Rohman menegaskan, pelestarian budaya tidak bisa hanya berhenti pada seremoni. Ia mendorong keterlibatan generasi muda melalui edukasi langsung, termasuk mengajak pelajar datang dan belajar dari sumbernya.
“Anak-anak harus dikenalkan sejak dini. Biar mereka tahu dan punya rasa memiliki,” ujarnya.
Pemkab, lanjut dia, akan mengarahkan Desa Janjang sebagai destinasi edukasi budaya. Selain menyaksikan wayang krucil, pelajar juga bisa belajar sejarah lokal, termasuk jejak tokoh-tokoh Blora terdahulu.
Akses menuju desa yang kini semakin baik dinilai menjadi peluang untuk menghidupkan kembali ruang-ruang budaya yang sempat terpinggirkan.
Baca Juga: Wayang Krucil Melawan Punah
Pementasan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pelestarian tidak bisa ditunda. Pemerintah daerah menyatakan komitmennya untuk terus mendorong ruang tampil bagi kesenian tradisional, termasuk wayang krucil yang mulai ditinggalkan.
Arief Rohman menegaskan, upaya menjaga budaya adalah tanggung jawab bersama. “Kalau tidak kita rawat sekarang, nanti anak cucu kita hanya akan tahu dari cerita,” tegasnya. (hul/ind)
Editor : Bhagas Dani Purwoko