BLORA, Radar Bojonegoro - Warga terdampak proyek Bendungan Karangnongko sepakat ganti untung. Namun, untuk mempertahankan status desa dan kultur sosial masyarakat, warga minta lahan yang bakal ditempati tak jauh dari desa asal.
Karena itu, pemerintah mengusulkan transmigrasi lokal kepada Kementerian Transmigrasi. Hingga saat ini, proses appraisal belum dimulai. Kepala Desa (Kades) Ngrawoh, Kecamatan Kradenan Purwondo mengungkapkan, warga desanya sekitar proyek berjumlah sekitar 214 KK, sementara yang terdampak hampir keseluruhan, yakni berjumlah 183 KK.
’’Warga sepakat ganti untung, namun minta agar disediakan lahan tempat tinggal tak jauh dari desa yang ditinggalkan,” bebernya. Purwondo mengatakan, pihaknya telah diajak untuk bertemu dengan Kementerian Transmigrasi. Pemkab mengusulkan adanya skema transmigrasi lokal untuk mengakomodasi keinginan warga. Meski belum menemui kata sepakat, pihaknya merasa ada titik terang.
Pihak kementerian akan mencarikan solusi warga terdampak. ’’Kami mendengarkan, alhamdulillah ada harapan baru kelihatannya lebih jelas, pemerintah mengusahakan pemindahan tidak jauh dari lokasi desa,” katanya.
Terkait nilai ganti untung, ia mengaku belum mengetahui besaran uang yang bakal diterima warga. Sebab, hingga saat ini, masih belum sampai pada proses appraisal dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Jawa Tengah (Jateng). ’’Hanya ada patok-patok yang sudah dipasang di lahan warga,” katanya.
Sementara itu, Camat Kradenan Tarkun mengungkapkan, untuk mengakomodasi desa yang terdampak proyek bandungan, pemkab masih melakukan lobi-lobi di kementerian. Terutama terkait rencana transmigrasi lokal.
’’Kami dan warga ingin mempertahankan status desa agar tidak hilang, namun butuh proses lama,” terang dia. Tarkun menjelaskan, masyarakat yang terdampak berkumpul jadi satu. Untuk rencana transmigrasi lokal, pihak kementerian bakal melakukan riset terlebih dahulu.
Juga berencana bakal sambangi desa-desa terdampak. ’’Dalam waktu dekat ini dari perintah menteri akan ke desa-desa terdampak. Intinya sudah ada lampu hijau dari lintas kementerian,” katanya.
Diketahui, terdapat tiga desa yang paling terdampak proyek bendungan tersebut yakni Desa Ngrawoh, Nginggil, dan Nglebak. Ditambah Desa Mendenrejo dan Megeri Kecamatan Kradenan yang juga terdampak, namun tidak seluas tiga desa tersebut. (luk/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana