BLORA, Radar Bojonegoro - Rata-rata lama sekolah penduduk di Kota Sate masih rendah berdasar survei Badan Pusat Statistik (BPS). Adapun responden merupakan warga usia produktif, 25-35 tahun.
Hasil surveinya, rata-rata lama sekolah penduduk Blora sekitar 7,08 tahun atau paling lama sekolah hanya ditempuh hingga kelas 1 SMP. Jadi, rerata hanya tamatan SD. Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Blora Nuril Huda mengatakan, bahwa pihaknya senantiasa melakukan intervensi dengan mendorong warga ikut sekolah kesetaraan.
’’Kami juga sudah mendata lama sekolah penduduk, mereka yang tidak tamat SMP kami dorong untuk medapatkan paket B dan untuk SMA ikut paket C,” ujarnya kemarin (22/7). Nuril menegaskan, gerakan kembali ke sekolah terus digencarkan.
Termasuk penduduk yang berusia 25-35 tahun tersebut. Saat ini, pihaknya masih melakukan pendataan dan verifikasi jumlah yang telah mengikuti program sekolah kesetaraan.
’’Kami masih melakukan pendataan, datanya belum masuk semua,” jelasnya. Menurutnya dengan gerakan tersebut, angka lama sekolah penduduk bisa naik. Termasuk menaikkan indeks pembangunan manusia (IPM) yang akhir tahun lalu naik 0,68 poin.
’’Termasuk salah satu indikator angka IPM yang akhir tahun lalu berjumlah 70,68 poin,” jelasnya. Sementara, untuk penduduk yang masih berusia SD dan SMP saat ini juga didorong untuk tetap melanjutkan sekolah hingga SMA.
Dari data yang dimiliki angka harapan sekolah 12,57 tahun. ’’Untuk harapan sekolah ini yang masih menempuh pendidikan, harapannya setara dengan SMA,” katanya.
Anggota Komisi D DPRD Blora Achlif Nugroho Widi Utomo mendorong agar rata-rata lama sekolah penduduk bisa meningkat. Dengan intervensi yang dilakukan pemkab, ia optimistis bisa berdampak pada kenaikan IPM yang tahun ini meningkat 0,68 poin. ’’Salah satu yang bisa dilakukan untuk mendongkrak IPM ya itu,” katanya.
Perlu diketahui, angka rata-rata lama sekolah Kabupaten Blora alami kenaikan tiap tahunnya. Pada 2021 lama sekolah 6,99 tahun; pada 2022 lama sekolah 7,01 tahun; dan pada 2023 lama sekolah 7,08 tahun. (luk/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana