Sejak 2016 hingga sekarang, delman yang semula sebagai angkutan penumpang menjelma jadi angkutan wisata. Mereka mangkal di area Taman Tuk Buntung Cepu mulai sore hingga malam.
SINAR matahari mulai meredup, namun semangat para kusir delman masih meletup. Mereka tak ingin buntung di tengah perkembangan transportasi modern. Siasati minat penumpang, dari angkutan penumpang pergi ke pasar hingga beralih jadi transportasi untuk wisatawan.
’’Dulunya kami angkut penumpang pergi ke pasar, tapi berkembangnya transportasi akhirnya penumpang jadi sepi,” ungkap Sutaji, Ketua Paguyuban Delman Wisata di Kecamatan Cepu. Setiap sore, transportasi kuno tersebut terparkir di sekitar taman Tuk Buntung, menanti penumpang yang ingin berkeliling di kawasan Cepu.
Sutaji dan para kusir ingin tetap eksis di tengah berkembangnya transportasi mesin. Sehingga, harus memutar otak agar delman tetap menjadi primadona transportasi warga. ’’Dari penumpang terus-terusan sepi itu, akhirnya kepikiran jadi transportasi wisata,” ungkapnya.
Awal perubahan haluan itu dimulai 2016 silam. Kali pertama sekitar tiga kusir delman yang mencoba peruntungan di kawasan Taman Tuk Buntung. Ternyata, ide tersebut disambut baik masyarakat. Banyak warga tertarik menjadi penumpang, untuk berkeliling di Kawasan Cepu.
’’Banyak yang minat itu, akhirnya banyak kusir yang tertarik untuk ikut,” ungkapnya. Sutaji mengungkapkan, karena semakin banyak peminat, dibentuklah paguyuban. Saat ini, ada sekitar 16 kusir delman yang mengangkut penumpang.
Selain kusir berasal dari Kecamatan Cepu, juga ada dari Kecamatan Kasiman dan Padangan turut Kabupaten Bojonegoro ikut dalam paguyuban. ’’Tidak hanya dari Cepu, dari Bojonegoro juga ada,” katanya.
Perubahan haluan dari angkutan warga pergi ke pasar menjadi angkutan wisata, tentu membutuhkan perubahan. Para kusir merombak kereta dengan berbagai hiasan dan lampu kerlap-kerlip.
Selain itu, delman yang sebelumnya beratap, dihilangkan. Agar penumpang lebih leluasa menikmati pemandangan jalan raya dan bangunan di Kawasan Cepu. ’’Tapi, minusnya kalau ada hujan, harus berhenti dulu,” tuturnya.
Penumpang akan diajak berkeliling mulai dari Tuk Buntung, Taman Seribu Lampu, hingga memutar arah Jalan Pemuda. Banyaknya bangunan-bangunan Belanda lawas, menjadi daya tarik lebih bagi wisatawan.
Baca Juga: Warga Butuh Sosialisasi Reaktivasi Jalur Cepu-Blora, PT KAI Daop 4 Tunggu Kepastian
’’Iya, banyak bangunan lama menjadi daya tarik untuk berkeliling,” terangnya. Selain warga lokal, penumpang juga ada yang ada dari luar daerah. Terlebih saat hari libur, dan momen-momen hari besar Nasional. ’’Kalau sedang liburan atau libur hari raya itu banyak sekali,” ungkapnya.
Menurutnya, dengan adanya paguyuban delman, pengurusan jadwal lebih tertata. Bahkan, saat ini, sudah ada admin tersendiri untuk inventarisasi penumpang dan delman yang harus berjalan. ’’Jadi, sudah diatur di sini, tidak keroyokan rebutan penumpang,” terangnya. Adapun tarif naik delman, Rp 30.000 per trip. (luk/bgs)
Editor : Hakam Alghivari