‘’Saya melihat disabilitas yang ada di Blora, Rembang, Grobogan, Pati belum tersentuh. Selain itu, banyak disabilitas yang disembunyikan orang tua karena dianggap aib," ungkap disabilitas yang kedua kakinya saat ini dipasang kaki palsu.
Ia ingin memberikan contoh bahwa para penyandang disabilitas juga bisa menjadi bagian dari angggota legislatif. Dia membentuk komunitas disabilitas Blora untuk menampung aspirasi. Beberapa yang telah diperjuangkan yakni penyusunan perda Disabilitas Blora. Juga beberapa bantuan yang saat ini telah diberikan kepada disabilitas.
"Sejak saat itu saya punya angan-angan menampung permaslahan disabilitas yang ada," terangnya.
Lelaki paruh baya itu sudah mendapat rekomendasi bacaleg dari pimpinan pusat pusat salah satu parpol sejak 4 Juni. Dirinya maju bermodalkan nekat dan keteguhan hati. Tidak ada mahar politik yang diberikan kepada partai. Begitu juga dengan konstituen pemilihnya.
‘’Kalu saya berpikirnya uang, saya tidak nyaleg. Kalau berpikirnya untuk kepentingan masyarakat saya berani. Kalau melihatnya uang, saya yakin para calon akan balik gak berani nyaleg," ungkapnya. (luk/zim) Editor : M. Yusuf Purwanto