BLORA, Radar Bojonegoro - Anggaran Rp 3,67 miliar untuk pembeliam mobil dinas (mobdin) di 16 kecamatan. Pemkab beralasan untuk menunjang operasional, bukan mobil dinas camat. Sebab, mobil operasional sebelumnya hibah pinjamkan ke setiap koramil.
Kabag Umum Sekretariat Daerah (Setda) Blora Sujianto mengatakan, 16 kecamatan sudah terima mobil operasional sejak minggu lalu. Mobil pelat merah itu menunjang operasional kegiatan kecamatan. ‘’Jadi mobil itu bukan untuk camat," jelasnya kemarin (10/4).
Menurut Sujianto, Pemkab Blora menganggarkan Rp 3,67 miliar pembelian mobil All New Avanza Tipe E. Mengganti mobil Suzuki APV disewa hibahkan ke koramil se Blora pada 8 Maret 2021. ‘’Mobil yang dulu ditarik pemkab digunakan operasionalnya danramil. Sehingga operasional kecamatan keteteran. Akhirnya penyusunan anggaran tahun lalu disepakati pengadaan mobil operasional," ungkapnya.
Alasan memilih All New Avanza Tipe E, menurut Sujianto, karena menyesuaikan anggaran. Setiap unit harganya Rp 227,5 juta. ‘’Mobil operasional itu digunakan menunjang kegiatan ibu-ibu PKK, dharmawanita, dan mobil kesehatan layanan di desa," bebernya.
Beberapa masyarakat mengira mobil itu sebagai mobil dinas camat. Seperti dikemukakan Sekretaris Pemantau Keuangan Negara (PKN) Blora Fuad Mustofa memprotes kebijakan pemkab membelikan mobil dinas baru kepada semua camat.
Bupati Blora Arief Rohman menjelaskan, setiap unsur di kecamatan bisa menggunakan mobil tersebut. Mobil dinas tidak boleh dikuasai atau dibawa pulang camat atau perangkat kecamatan. ‘’Wajib diparkir di kantor kecamatan ketika tidak dipergunakan. Jika sewaktu-waktu ada ingin memakai segera ke garasi kantor kecamatan," jelasnya.
Mobil dinas camat saat ini berupa Terios silver. Bupati memaparkan, jika camat ada kegiatan, perangkat lainnya bingung ketika dapat undangan kegiatan luar karena tidak ada kendaraan operasional ke desa-desa.
Wakil Ketua DPRD Siswanto belum bisa dikonfirmasi saat dihubungi kemarin (10/4) sore terkait pembahasan penetapan anggaran pengadaan mobil operasional kecamatan tersebut. (luk/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto