Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Blora Kunto Aji menjelaskan, taman tuk buntung dipergunakan untuk berbagai macam pertunjukan. Untuk mewadahi kreativitas masyarakat berbagai latar belakang, baik itu tradional maupun modern.
"Termasuk agenda wayangan dan menyambut tahun baru mendatang," terangnya kemarin (18/12).
Kunto menjelaskan, agenda wayangan nanti akan mendatangkan dalang yang akan menghibur masyarakat hingga malam suntuk. Agenda wayangan itu termasuk rangkaian resepsi acara hari jadi yang diselenggarakan maraton setelah sebelumnya di Blora dan Kedungtuban.
Pemerhati Sejarah dan Kebudayaan Cepu Temy Setiawan menambahkan, dalam beberapa artikel yang dikumpulkan dari koran belanda, bahwa Taman Tuk Buntung dahulu adalah rencana pemerintah belanda bekerjasma dengan perusahaan saat itu yakni N.I.S.M, S.J.S dan D.P.M. Perusahaan kereta api dan minyak di Cepu.
"Perencanaan pembangunan pusat kota ini melibatkan beberapa perusahan besar utama di Cepu yang dirapatkan di Surabaya untuk menyepakati angka pembiayaan," tulisanya.
Temmy mengungkapkan, data yang dihimpun dari surat kabar koran belanda berjudul Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie tahun 1912 silam menyebutkan, pembangunan pusat kota akan dibangun Juliana Boulevard dengan lebar 40 meter.
Perlu diketahui, bahwa zaman dahulu jalan buatan belanda dibedakan berdasarkan jenisnya, Juliana Boulevard merupakan jenis jalan yang bergengsi membentang dengan tengah berupa taman.
Hal itu menurutnya, informasi primer yang menarik karena menjawab tiga pertanyaan sekaligus yakni pusat kota dibangun jalan besar dengan lebar 40 meter, pusat kota disebut 'Boulevard Juliana, Pusat Kota menghubungkan dua perumahan besar, dua rumah dinas yaitu Rumah Dinas BPM dan NISM. "Ya, yang sekarang dikenal dengan Taman Tuk Buntung Cepu," terangnya. (luk/msu) Editor : M. Yusuf Purwanto