Napas penguatan profil Pelajar Pancasila tampaknya bisa kita lihat pada periode kepemimpinan Presiden Soekarno. Saat itu ia pernah menggagas lahirnya Ganefo (Games of the New Emerging Forces), berarti Pesta Olahraga Negara-Negara Berkembang.
Bukti keseriusan Soekarno bidang olahraga, memunculkan ide spektakuler menyelenggarakan perlombaan olahraga internasional setara olimpiade. Membuktikan bahwa negara berkembang tidak kalah negara adidaya saat itu. Olahraga dimata Soekarno menjadi sorotan penting masa pemerintahannya.
Tertuang dalam buku berjudul Ganefo, Bagi Sukarno, kesehatan badan, keolahragaan, dan kesigapan fisik salah satu bagian mutlak pembangunan bangsa (nation building). Bagi Soekarno, olahraga juga cara wicara lewat kekuatan raga menarasikan kekuatan bangsa.
Ha itu selaras penguatan profil Pelajar Pancasila diusung saat ini, dalam mata pelajaran (mapel) olahraga. Misalnya, yang digagas SMAN 1 Jepon, Blora, saat ini, banyak talenta atlet pencak silat dididik mempunyai karakter kebhinekaan, berakhlak, dan nasionalisme tinggi.
Gayung bersambut, profil Pelajar Pancasila dikembangkan melalui pembelajaran PJOK. Pertama ialah beriman, bertakwa kepada Tuhan, dan berakhlak mulia diimplementasikan sebelum dan setelah pelajaran PJOK dilakukan doa dipimpin guru.
Kedua, berkebhinnekaan global dengan cara kegiatan pekan olah raga pelajar baik tingkat daerah maupun nasional. Tentu, mencapai prestasi bisa menumbuhkan rasa nasionalisme tinggi. Saat bertanding berinteraksi budaya lain, sehingga menumbuhkan saling menghargai satu dengan yang lain.
Ketiga, bergotong-royong. Dibentuk olahraga beregu seperti sepak bola, basket, voli. Tanpa gotong-royong baik kemenangan tidak akan tercapai. Elemen-elemen dari bergotong-royong adalah kolaborasi, kepedulian, dan berbagi.
Keempat adalah mandiri. Olahraga bersifat perorangan seperti cabang atletik. Cabor tersebut membutuhkan kemandirian, skill individual agar memenangkan perlombaan. Kemandirian diasah dalam latihan-latihan cabor tidak beregu.
Kelima, bernalar kritis. Pelajar bernalar kritis secara obyektif memproses informasi baik kualitatif maupun kuantitatif, membangun keterkaitan antara berbagai informasi, menganalisis informasi, mengevaluasi, dan menyimpulkannya.
Keenam, kreatif. Pelajaran olahraga kreativitas dibentuk dengan mengadopsi strategi laly memodifikasinya akar pertandingan olahraga bisa mendapat peluang keluar sebagai juara. Tanpa kreativitas mustahil memperoleh kemenagan. Sebab, permainan terkesan monoton dan gampang terbaca lawan. Sifat ini terbentuk misalkan dalam permainan bulu tangkis. (*)
DASAR, S,Pd.
Guru Olahraga SMAN 1 Jepon, Blora Editor : M. Yusuf Purwanto