Terlihat Cahyadi tampak sibuk menjawab pertanyaan pengunjung yang penasaran dengan lahan berukuran 1.000 meter persegi itu.
Dengan gunting di genggaman jarinya, Cahyadi mulai memotong buah anggur untuk pelanggan. Konsep petik buah dipilihnya. Selain menjual juga taman buahnya diperuntukkan edukasi. “Siapa pun bisa datang ke sini, baik itu hanya melihat-lihat saja,” ujar mantan pengacara tersebut.
Cahyadi tampak atraktif menjelaskan dengan teliti bagaimana proses awal pembibitan sampai pembuahan dan perawatan buah anggur. “Siapa yang ingin belajar saya ajari, yang ingin praktik juga bisa,” ujarnya.
Berkebun anggur ditekuninya sejak 2019 itu, masih tetap bertahan saat ini. Tedapat berbagai varian buah anggur, tampak dari buah bergelantungan dengan berbagai macam warna. Ada anggur berkulit hitam, merah, kuning dan hijau. “Ada puluhan varian buah anggur,” jelasnya.
Ia menjelaskan, anggur ukuran bervariatif itu memiliki beberapa nama salah satunya my heart, kenzan, mundrof, dan ilaria hijau.
Memanfaatkan lahan pekarangan sempit itu, pohon anggur tumbuh menjalar dan dililitkan satu dengan lainnya dengan kayu penyangga. “Sehingga dalam satu batang bisa ditemukan berbagai warna. Biasanya saya gabungkan lilitannya sampai sepuluh macam,” tuturnya saat duduk di sudut gubuk diberi nama Pengangguran tersebut.
Cahyadi mengonsep penanaman kebun buahnya secara bertahap. Sehingga stok buah selalu ada setiap bulannya. “Memang tidak saya buat serentak, sehingga ada terus kalau orang datang,” jelasnya. (luk/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto