Menjadi pelepas penat usai bekerja. Rencana tahun ini ditambah dalam anggaran perubahan.
‘’Kami anggarakan tahun ini dalam APBD perubahan, untuk tabebuya sekitar 20 an pohon,’’ ujar Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Blora Gartini.
Menurut Gartini, tabebuya yang mulai bermekaran itu hasil penanaman beberapa tahun lalu. Dilakukan oleh dinas perumahan, Permukiman dan Perhubungan (Dinrumkimhub), yang tahun ini telah diserahkan pengelolaan kepada DLH.
‘’Tahun ini kami yang mengelola, dilimpahkan dari dinrumkimhub,’’ jelasnya.
Jalanan tampak berwarna saat pohon-pohon tabebuya bermekaran, seperti di Jalan Gor Mustika dekat perkantoran dan di Jalan Gunandar.
Gartini menjelaskan, penanaman dilakukan disejumlah trotoar, dengan tujuan mempercantik pinggir jalan dan pelepas penat pagi pengguna jalan.
Selain pohon tabebuya, juga terdapat pohon pule dan bugenvil. Tahun ini juga dimasukkan program penambahan pohon hias di pinggir jalan. Dengan jumlah pohon pule sekitar 25 pohon dan bugenvil 240 pohon.
‘’Untuk yang bugenvil rencana kami sebar di sepanjang trotoar mulai Cepu hingga Blora,’’ tuturnya.
Gartini mengungkapkan, pengadaan pohon penghias diperkirakan mulai dari kecil, diameter tidak terlalu besar. Sebab menyesuaikan anggaran daerah, sedangkan terkait perawatan dilakukan penyiraman rutin setiap harinya, menggunakan truk tengki air.
‘’Kami sirami setiap harinya, dan kami berharap masyarakat juga ikut merawat agar bisa dinikmati bersama,’’ tuturnya.
Sementara itu, Anik Nur Savitri, salah satu satu warga Desa Karangjati, Kecamatan Blora Kota mengaku senang saat bunga mulai bermekaran, bisa digunakan melepas penat saat menunggu anaknya sekolah di TK, berdekatan dengan tabebuya bermekaran di trotoar.
‘’Bagus kalau jalanan ada bunga-bunga bermekaran, sambil menunggu anak pulang sekolah bisa melihat warna-warni bunga di trotoar,’’ ungkapnya. (luk/msu) Editor : M. Yusuf Purwanto